Banjir yang melanda Kabupaten Aceh Utara semakin memprihatinkan. Kondisi banjir kini meluas ke delapan kecamatan, dengan satu warga dilaporkan meninggal dunia akibat bencana alam ini. Pemerintah setempat telah menetapkan status siaga darurat banjir dan mengambil berbagai langkah penanganan darurat untuk mencegah dampak lebih buruk.
Kronologi kejadian dimulai dari hujan deras yang terus-menerus mengguyur wilayah Aceh Utara dalam beberapa hari terakhir. Curah hujan tinggi menyebabkan debit air sungai meningkat drastis, sehingga air meluap dan merendam banyak area. Bupati Aceh Utara, H. Ismail A. Jalil (Ayah Wa), secara resmi menetapkan status siaga darurat banjir melalui Keputusan Bupati Nomor 360/845/2025 pada 23 November 2025. Langkah ini diambil sebagai respons atas situasi yang semakin memburuk.
Kronologi Lengkap
Sejak akhir pekan lalu, banjir mulai meluas dan kini melumpuhkan delapan kecamatan, yaitu Tanah Jambo Aye, Seuneddon, Baktia Barat, Langkahan, Samudera, Syamtalira Aron, Lapang, dan Muara Batu. Data BPBD Aceh Utara per Senin malam (24/11/2025) mencatat sebanyak 4.555 jiwa (2.723 KK) terdampak, sementara 1.754 jiwa (589 KK) terpaksa mengungsi. Dari jumlah tersebut, kelompok rentan seperti ibu hamil, balita, lansia, dan penyandang disabilitas juga membutuhkan perhatian khusus.
Menurut Juru Bicara Pemkab Aceh Utara, Muntasir Ramli, banjir dipicu oleh pendangkalan sungai dan muara, serta luapan air sungai akibat curah hujan yang tinggi. Genangan air juga merendam 616 hektare sawah, 555 hektare tambak, sekolah, kantor pemerintahan, tempat ibadah, dayah, rumah warga, dan akses jalan.
Mengapa Menjadi Viral?
Banjir Aceh Utara menjadi viral karena kondisi yang semakin parah dan dampaknya yang signifikan terhadap masyarakat. Video-video tentang genangan air yang meluas, warga yang mengungsi, serta upaya evakuasi oleh petugas memicu perhatian publik. Selain itu, adanya laporan satu warga yang meninggal dunia memperkuat narasi bencana yang terjadi. Media sosial juga turut mempercepat penyebaran informasi, baik melalui unggahan foto, video, maupun komentar dari warga setempat.
Respons & Dampak
Pemerintah Aceh Utara langsung bertindak cepat dengan menurunkan bantuan masa panik ke lokasi banjir dan pos pengungsian. Bupati Ismail A. Jalil juga turun langsung ke beberapa titik banjir untuk memastikan penanganan darurat berjalan efektif. BPBD dan instansi terkait terus melakukan koordinasi intensif, termasuk memastikan layanan kesehatan bagi para pengungsi.
Dampak banjir tidak hanya terasa secara fisik, tetapi juga psikologis dan ekonomi. Ribuan warga terpaksa meninggalkan rumah mereka, sedangkan fasilitas umum seperti sekolah dan perkantoran terganggu. Selain itu, kerugian ekonomi juga terjadi akibat tanaman pertanian dan tambak yang terendam.
Fakta Tambahan / Klarifikasi
Hingga saat ini, pemerintah daerah masih terus memantau situasi banjir. Status siaga darurat akan berlangsung selama 54 hari, mulai 23 November 2025 hingga 15 Januari 2026. Pihak BPBD juga terus memperbarui data terkait jumlah korban dan lokasi banjir. Dinas Sosial Aceh Utara telah menyalurkan bantuan kepada ribuan warga yang terdampak, termasuk di desa-desa yang paling parah terkena banjir.
Penutup — Kesimpulan & Perkembangan Selanjutnya
Banjir Aceh Utara kini menjadi isu penting yang memerlukan perhatian serius dari semua pihak. Meski pemerintah sudah mengambil langkah-langkah darurat, masyarakat dan lembaga swadaya masyarakat diharapkan tetap waspada dan siap membantu. Publik juga menantikan update terbaru dari pihak berwenang terkait penanganan banjir dan kondisi korban.




















