BUMD Perkebunan Sumut Berupaya Meningkatkan Produksi Minyak Atsiri

Tana Paser – Taman Hutan Raya (Tahura) Lati Petangis Kabupaten Paser mengembangkan budidaya serai wangi di lahan 14 hektar yang bisa diolah menjadi minyak atsiri. Ini adalah bagian dari upaya BUMD Perkebunan Sumut untuk meningkatkan produksi minyak atsiri, yang kini menjadi perhatian besar bagi pemerintah dan masyarakat setempat.

Kabid Pengelolaan Tahura pada Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Paser, Teguh Haryanto menjelaskan bahwa pengolahan serai wangi dilakukan melalui penyulingan, bahkan limbahnya bisa diproduksi kembali menjadi sabun cuci piring, pelembut pakaian, dan balsam. “Bahan pokoknya, tanaman serai wangi ini sedang kita kembangkan. Sudah ada contohnya, dari tanaman itu bisa kita ambil minyaknya untuk parfum,” ujarnya.

Bacaan Lainnya

Proses penyulingan minyak atsiri di BUMD Perkebunan Sumut

Kronologi Lengkap

Pengembangan budidaya serai wangi di Tahura Paser dimulai beberapa tahun lalu sebagai bagian dari strategi pengelolaan lingkungan dan pemberdayaan masyarakat. Saat ini, Tahura Paser bekerja sama dengan kelompok wanita tani di empat desa yaitu Saing Prupuk, Petangis, Tabru, dan Mengkudu dalam mengembangkan bahan pokok untuk produksi minyak atsiri. Tanaman serai wangi yang ditanam di lahan terbuka dan lereng di kawasan konservasi tersebut berfungsi sebagai penahan laju erosi.

Teguh menambahkan bahwa pemanfaatan hasil budidaya menjadi sesuatu bernilai ekonomi bertujuan untuk merangsang para kelompok tani menanam. “Sehingga dengan kawasan Tahura bisa lestari secara lingkungan, dan lestari pula secara sosial dan ekonomi masyarakat,” ujarnya.

Mengapa Menjadi Viral?

Isu pengembangan minyak atsiri oleh BUMD Perkebunan Sumut mulai ramai dibicarakan karena potensi ekonomi yang besar dari produk ini. Minyak atsiri digunakan dalam industri kosmetik, obat-obatan, dan parfum, sehingga permintaan pasar sangat tinggi. Selain itu, keberlanjutan lingkungan juga menjadi faktor utama dalam pengembangan proyek ini, yang sejalan dengan tren global saat ini.

Respons & Dampak

Respon masyarakat terhadap proyek ini cukup positif. Kelompok tani di empat desa tersebut merasa terdorong untuk menanam serai wangi karena adanya peluang ekonomi. Bahkan, baru-baru ini kelompok tani setempat sudah pernah panen 18 rumpun serai, kurang lebih sebanyak 200 kilogram, yang dihargai Rp500 per kilogramnya.

Selain itu, pihak BUMD Perkebunan Sumut telah menjalin komunikasi dengan pengusaha yang siap membeli minyak atsiri. Mereka merupakan pengusaha yang tergabung dalam Dewan Atsiri Indonesia. “Karena minyak yang dihasilkan nanti untuk dieskpor, maka kita komunikasinya melalui pengusaha dari Atsiri,” tambah Teguh.

Fakta Tambahan / Klarifikasi

Idealnya, untuk produksi skala besar, lahan 10 hektar sudah cukup untuk memenuhi pabrik. Saat ini Tahura memiliki gedung penyulingan, yang berisi dua mesin. Satu mesin untuk menyuling serai, dan mesin lainnya untuk menyuling nilam.

Menurut Teguh, permintaan ekspor minyak atsiri dari Indonesia ke luar negeri cukup besar. Pada tahun 2022, terdapat permintaan 1.900 kilogram minyak atsiri ke luar negeri, namun sayangnya tidak terpenuhi. Diketahui, produksi minyak atsiri berkembang pesat di wilayah Jawa Barat, Sumatera Utara, dan Sumatera Selatan.

Penutup — Kesimpulan & Perkembangan Selanjutnya

BUMD Perkebunan Sumut terus berupaya meningkatkan produksi minyak atsiri melalui pengembangan budidaya dan kerjasama dengan pengusaha. Publik menantikan pengembangan selanjutnya, termasuk penandatanganan kerjasama antara Bupati Paser dengan pengusaha yang tergabung di Dewan Atsiri. Dengan potensi ekonomi dan lingkungan yang besar, proyek ini diharapkan menjadi contoh sukses dalam pemberdayaan masyarakat dan pelestarian alam.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *