Lead / Teras Berita
Kasus dugaan rekayasa penangkapan narkoba kembali memicu perhatian publik setelah seorang tersangka, US, mengungkapkan bahwa barang bukti sabu yang dianggap sebagai bukti utama dalam penangkapan tersangka lain justru “diciptakan” oleh oknum di Satuan Narkoba. Pengakuan ini muncul di tengah maraknya laporan warga yang merasa dijebak oleh aparat kepolisian, termasuk kasus di Deli Serdang dan Pamekasan yang menimbulkan kontroversi.
Subjudul 1 — Kronologi Lengkap
Pada bulan Februari 2025, Bripka BS dari Satresnarkoba Polresta Deli Serdang terluka akibat tembakan saat sedang melakukan penangkapan bandar narkoba. Saat itu, pelaku merebut senjata api milik Bripka BS dan menembaknya. Kapolda Sumut Irjen Whisnu Hermawan Februanto menjelaskan bahwa penembakan terjadi saat terjadi perkelahian antara petugas dan warga. Menurut Kapolresta Deli Serdang Kombes Raphael Sandhy Cahya Priambodo, pelaku yang menembak bukanlah bandar narkoba yang ingin ditangkap, melainkan warga sekitar yang tidak puas dengan tindakan polisi.
Di sisi lain, di Pamekasan, Jawa Timur, proses penangkapan tiga tersangka narkoba juga diwarnai pengadangan warga. Puluhan orang mencoba menghalangi proses penangkapan, sehingga polisi terpaksa memberikan tembakan peringatan. Video yang beredar menunjukkan empat kali tembakan ke udara dilakukan oleh petugas untuk membubarkan kerumunan.
Subjudul 2 — Mengapa Menjadi Viral?
Kasus-kasus seperti ini viral karena menunjukkan ketegangan antara aparat kepolisian dan masyarakat. Video penangkapan yang diunggah ke media sosial memicu diskusi luas tentang profesionalisme dan kesadaran hukum. Di Deli Serdang, kejadian Bripka BS ditembak menjadi sorotan karena menimbulkan pertanyaan tentang bagaimana situasi bisa berujung pada tindakan yang tidak terduga. Sementara di Pamekasan, tembakan yang dilakukan polisi memicu kekhawatiran akan penggunaan kekuatan berlebihan.
Selain itu, pengakuan US di Dairi semakin memperkuat narasi bahwa ada indikasi rekayasa dalam penangkapan narkoba. Pengakuan ini disampaikan melalui kuasa hukum dan keluarga, serta menyebutkan bahwa barang bukti sabu bukanlah bahan tersebut, melainkan hasil rekayasa.
Subjudul 3 — Respons & Dampak
Respons masyarakat terhadap kasus ini sangat beragam. Sebagian besar mengecam tindakan polisi yang dinilai terlalu keras, sementara sebagian lain mendukung langkah mereka untuk menindak kejahatan narkoba. Tokoh masyarakat dan aktivis HAM meminta pihak berwenang untuk lebih transparan dan menjaga proporsionalitas dalam bertindak.
Dampak dari kasus ini tidak hanya berupa kerugian fisik bagi anggota polisi, tetapi juga menimbulkan ketidakpercayaan masyarakat terhadap institusi kepolisian. Selain itu, jika benar ada rekayasa, hal ini bisa merusak integritas penegakan hukum dan menimbulkan efek psikologis bagi para tersangka dan keluarga mereka.
Subjudul 4 — Fakta Tambahan / Klarifikasi
Hingga saat ini, Polres Dairi belum memberikan tanggapan resmi atas pengakuan US. Namun, pihak keluarga dan pendamping hukum telah meminta perlindungan saksi dari LPSK agar pengakuan US tidak hilang atau tidak diproses. Mereka menilai bahwa informasi yang diberikan sangat sensitif dan berkaitan dengan reputasi institusi kepolisian.
Sementara itu, Kapolda Sumut Irjen Whisnu Hermawan Februanto mengimbau masyarakat untuk bersabar dan memberikan doa agar Bripka BS dapat segera pulih. Ia juga menegaskan bahwa pihaknya akan menindaklanjuti semua laporan yang masuk secara profesional dan sesuai prosedur hukum.
Penutup — Kesimpulan & Perkembangan Selanjutnya
Kasus dugaan rekayasa penangkapan narkoba dan tindakan keras aparat kepolisian menunjukkan kompleksitas dalam penegakan hukum. Publik kini menantikan langkah konkret dari lembaga terkait untuk mengungkap fakta sebenarnya dan memastikan keadilan. Apa yang ditunggu selanjutnya adalah klarifikasi resmi dari pihak kepolisian dan proses penyelidikan yang transparan.
