Komunitas Fotografi Bengkulu Kumpulkan Dana untuk Konservasi Bunga Rafflesia

Bengkulu, 2025 – Komunitas fotografi di Bengkulu tengah menginisiasi kampanye pengumpulan dana untuk mendukung upaya konservasi bunga Rafflesia. Inisiatif ini muncul setelah tiga bunga Rafflesia arnoldii mekar di kawasan Hutan Lindung Bukit Daun dan Cagar Alam Taba Penanjung, yang menarik perhatian publik dan ilmuwan.

Ketiga bunga tersebut ditemukan oleh Dosen Jurusan Kehutanan Universitas Bengkulu, Agus Susatya, yang menyebutkan bahwa satu dari tiga bunga itu memiliki keunikan dengan tiga kelopak. Hal ini menjadi bukti betapa langkanya spesies bunga ini di alam liar.

Bacaan Lainnya

Bunga Rafflesia arnoldii di Hutan Lindung Bukit Daun

Kronologi Lengkap

Pada akhir tahun 2024, tiga bunga Rafflesia arnoldii ditemukan di dua lokasi berbeda di Bengkulu. Dua di antaranya berada di Hutan Lindung Bukit Daun, sedangkan satu lainnya di Cagar Alam Taba Penanjung. Agus Susatya, yang memantau kondisi bunga-bunga tersebut, menyatakan bahwa dua dari tiga bunga akan mekar sempurna dalam beberapa hari ke depan.

Menurutnya, kawasan hutan Bukit Barisan merupakan habitat alami bunga langka ini. Di kawasan tersebut, terdapat komunitas lokal yang aktif menjaga dan memantau keberadaan Rafflesia. Salah satunya adalah Kelompok Peduli Puspa Langka Tebat Monok, yang bertanggung jawab atas bunga di Hutan Lindung Bukit Daun.

Komunitas peduli puspa langka Bengkulu menjaga bunga Rafflesia

Mengapa Menjadi Viral?

Temuan ini viral di media sosial setelah video emosional seorang anggota komunitas lokal, Septian Riki, yang menangis melihat bunga Rafflesia hasseltii mekar di habitat aslinya. Video tersebut mencuri perhatian netizen dan memicu diskusi tentang pentingnya konservasi bunga langka ini.

Selain itu, kolaborasi antara Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Universitas Bengkulu, dan Komunitas Peduli Puspa Langka Bengkulu juga menjadi sorotan. Proyek “The First Regional Pan-Phylogeny for Rafflesia” bertujuan merekonstruksi hubungan filogenetik seluruh jenis Rafflesia di Asia Tenggara.

Peneliti BRIN melakukan riset di hutan Bengkulu

Respons & Dampak

Temuan ini mendapat respons positif dari masyarakat dan tokoh lingkungan. Banyak pihak menyambut baik inisiatif komunitas fotografi yang ingin membantu konservasi Rafflesia. Mereka berharap dana yang terkumpul bisa digunakan untuk pendidikan masyarakat, perlindungan habitat, dan penelitian lebih lanjut.

Namun, ada juga kekhawatiran bahwa aktivitas manusia seperti pertanian dan perkebunan dapat mengancam keberadaan bunga ini. Joko Ridho Witono dari BRIN menekankan pentingnya pendekatan konservasi berbasis masyarakat agar bunga langka ini tetap lestari.

Komunitas fotografi Bengkulu menggelar acara amal

Fakta Tambahan / Klarifikasi

BRIN telah mengumpulkan 13 sampel Rafflesia untuk dianalisis DNA-nya. Pendekatan Whole Genome Sequencing (WGS) digunakan untuk memetakan seluruh genom Rafflesia, sehingga memungkinkan identifikasi spesies baru jika ditemukan.

Joko menegaskan bahwa semua proses riset dilakukan secara legal dan berizin. Tidak ada material genetik yang keluar dari Indonesia. Selain itu, temuan Rafflesia hasseltii di luar kawasan konservasi menunjukkan bahwa perlindungan bunga ini harus melibatkan masyarakat sekitar.

Penutup

Komunitas fotografi Bengkulu kini bergerak cepat untuk mengumpulkan dana guna mendukung konservasi bunga Rafflesia. Apa yang ditunggu publik berikutnya adalah hasil dari kampanye ini dan bagaimana dana yang terkumpul akan digunakan. Dengan dukungan masyarakat dan ilmuwan, harapan besar terhadap kelestarian bunga langka ini semakin kuat.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *