Pimpinan Pondok Pesantren Al-Washliyah Darwis Jambi, Rikki Arisandi, S.H., M.H., menggariskan pentingnya pendidikan akhlak sebagai fondasi utama dalam membentuk generasi yang beriman dan berakhlak. Dalam wawancara dengan media, ia menekankan bahwa pendidikan tidak hanya terbatas pada penguasaan ilmu pengetahuan, tetapi juga harus melibatkan pengembangan karakter dan nilai-nilai luhur.
Rikki, yang lahir pada 25 Oktober 1997, kini memimpin pondok pesantren yang berlokasi di Jalan Penerangan RT 10, Kelurahan Pinang Merah, Kecamatan Alam Barajo, Kota Jambi. Ia telah menjalani perjalanan pendidikan yang panjang, mulai dari SDN 112 Maro Sebo hingga kuliah di berbagai lembaga pendidikan. Pada 2018, ia bahkan berhasil lolos seleksi program Kuliah Kerja Nyata (KKN) dan Praktik Pengalaman Lapangan (PPL) internasional ke Thailand sebagai perwakilan Indonesia.
Kronologi Lengkap
Rikki Arisandi, yang kini menjadi pemimpin Pondok Pesantren Al-Washliyah Darwis Jambi, memiliki latar belakang pendidikan yang kuat. Ia lulus dari SDN 112 Maro Sebo dan Madrasah Nurul Wathon, kemudian melanjutkan studi ke SMPN 17 Muaro Jambi. Setelah itu, ia menempuh pendidikan pondok di Ponpes As’ad Jambi sebelum melanjutkan studi di Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo, Situbondo, Jawa Timur.
Pada 2018, Rikki diberi kesempatan untuk ikut serta dalam program KKN dan PPL internasional ke Thailand. Di sana, ia juga dipercaya menjadi Qori dalam pertemuan lintas negara antara Indonesia, Thailand, dan Malaysia dalam rangka perayaan Hari Kemerdekaan RI. Setelah itu, ia melanjutkan studi magister di Universitas Ibrahimy, Jawa Timur, dan kini aktif sebagai dosen di Ma’had Aly Syekh Ibrahimy As’ad Jambi.
Mengapa Menjadi Viral?
Isu pendidikan akhlak di kalangan pesantren kini semakin ramai dibicarakan, terutama setelah Rikki Arisandi menyampaikan pandangannya tentang pentingnya pendidikan karakter. Penekanan ini menarik perhatian masyarakat karena di tengah tantangan global, seperti degradasi moral dan kurangnya kesadaran akan nilai-nilai luhur, pendidikan akhlak menjadi solusi alternatif.
Banyak orang mulai menyadari bahwa pendidikan formal saja tidak cukup untuk membentuk individu yang berkualitas. Oleh karena itu, pendidikan akhlak yang diterapkan di pesantren, seperti yang dilakukan oleh Rikki, menjadi model yang layak ditiru.
Respons & Dampak
Respon masyarakat terhadap pernyataan Rikki sangat positif. Banyak tokoh masyarakat dan aktivis pendidikan mendukung pendekatan pendidikan akhlak yang diterapkan di pesantren. Mereka menilai bahwa pendidikan karakter yang dilakukan di pesantren dapat menjadi contoh nyata dalam membentuk generasi yang lebih baik.
Selain itu, banyak orang tua juga merasa percaya bahwa pesantren mampu memberikan lingkungan yang ideal untuk pengembangan anak-anak. Dengan adanya pendidikan akhlak, santri tidak hanya belajar teori, tetapi juga melatih sikap dan perilaku sehari-hari.
Fakta Tambahan / Klarifikasi
Rikki Arisandi mengatakan bahwa pendidikan akhlak adalah bagian tak terpisahkan dari proses pembelajaran. Ia menegaskan bahwa tugas utama seorang pemimpin pesantren adalah menciptakan lingkungan yang mendorong santri untuk belajar, berdisiplin, dan bertanggung jawab.
Ia juga menambahkan bahwa pesantren tidak hanya menjadi tempat untuk menuntut ilmu, tetapi juga menjadi tempat untuk memperkuat iman dan akhlak. Dengan demikian, santri akan tumbuh menjadi individu yang tidak hanya memiliki pengetahuan, tetapi juga memiliki karakter yang kuat.
Penutup – Kesimpulan & Perkembangan Selanjutnya
Pimpinan Pondok Pesantren Al-Washliyah Darwis Jambi, Rikki Arisandi, menekankan pentingnya pendidikan akhlak dalam membentuk generasi yang berakhlak. Isu ini kini menjadi viral karena relevansinya dengan tantangan sosial saat ini. Publik menantikan langkah-langkah lebih lanjut dari pesantren-pesantren lain dalam menerapkan pendidikan karakter.

















