Kualitas udara di Kota Jambi, Provinsi Jambi, kembali menjadi sorotan setelah warga melaporkan pengalaman buruk akibat kabut asap yang menyelimuti kota. Pada beberapa minggu terakhir, kondisi ini memicu kekhawatiran masyarakat akan kesehatan dan kenyamanan sehari-hari.

Kronologi Lengkap
Permasalahan kualitas udara di Jambi tidak terjadi secara tiba-tiba. Dalam laporan dari Komunitas Konservasi Indonesia (KKI) Warsi, kabut asap yang melanda kota ini diduga berasal dari kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di tiga desa di Kecamatan Kumpeh, Kabupaten Muaro Jambi. Berdasarkan analisis citra satelit Sentinel 2, kebakaran ini telah menghanguskan seluas 972 hektare lahan, sebagian besar berupa lahan gambut dengan kedalaman 100-200 sentimeter.
Dari pantauan satelit NOAA, titik panas di wilayah tersebut mulai terpantau pada 25 Agustus 2024, dan semakin meningkat pada hari berikutnya. Pada 27 Agustus 2024, kobaran api terlihat jelas melalui citra satelit. Koordinator Divisi GIS KKI Warsi, Askarinta Adi, menjelaskan bahwa kebakaran ini terindikasi berada di areal perusahaan perkebunan kelapa sawit PT Bumi Andalas.
“Kami melakukan pemantauan sejak beberapa hari ini, apakah titik panas dari satelit NAOO, menggambarkan lahan kebakaran yang terlihat di satelit Sentinel 2,” ujar Askarinta. “Tangkapan Sentinel 2 ini yang mengindikasikan kebakaran kita deliniasi sehingga luas kebakaran yang terjadi dapat diketahui.”
Mengapa Menjadi Viral?
Kejadian ini viral karena dampaknya langsung dirasakan oleh warga Jambi. Kabut asap yang menyelimuti kota membuat aktivitas sehari-hari terganggu. Warga melaporkan kesulitan bernapas, mata iritasi, serta penurunan visibilitas yang membahayakan keselamatan lalu lintas. Video-video yang menunjukkan kabut asap di Jambi tersebar di media sosial, memicu respons publik yang marah dan khawatir.
Selain itu, data kualitas udara dari IQAir menunjukkan indeks AQI di atas 136, yang masuk dalam kategori “tidak sehat untuk kelompok sensitif”. Ini memperkuat kekhawatiran masyarakat tentang kesehatan mereka, terutama anak-anak dan lansia.
Respons & Dampak
Warga Jambi merasa tidak nyaman dengan situasi ini. Banyak dari mereka mengeluhkan sulitnya mendapatkan udara segar dan harus menggunakan masker setiap hari. Beberapa tokoh masyarakat juga memberikan komentar mengenai kebijakan pemerintah daerah dan upaya pencegahan Karhutla.
Pihak berwenang seperti Satgas Karhutla dan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) telah mengambil langkah-langkah untuk mengatasi masalah ini. Namun, banyak warga mengharapkan respons yang lebih cepat dan efektif.
Secara ekonomi, kejadian ini juga berdampak pada sektor pariwisata dan bisnis lokal, karena turunnya jumlah pengunjung akibat kondisi cuaca yang tidak ideal.
Fakta Tambahan / Klarifikasi
Menurut data BMKG, kualitas udara di Kota Jambi mencapai kategori berbahaya pada Februari 2025, dengan skor maksimal PM2.5 sebesar 571,5 mikrogram per meter kubik. Meski data ini agak lama, hal ini menunjukkan bahwa isu kualitas udara di Jambi bukanlah hal baru.
Selain itu, berdasarkan data IQAir, kualitas udara di Jambi sering kali berada di kategori tidak sehat untuk kelompok sensitif. Hal ini menunjukkan bahwa perlu adanya kebijakan jangka panjang untuk mengatasi polusi udara di kota ini.
Penutup — Kesimpulan & Perkembangan Selanjutnya
Kualitas udara di Kota Jambi yang buruk akibat kabut asap kiriman menjadi isu penting yang memerlukan perhatian serius. Warga menunggu langkah konkret dari pemerintah dan instansi terkait untuk mengatasi masalah ini. Masyarakat juga berharap agar kebijakan pencegahan Karhutla lebih diperketat agar tidak terulang kembali.




















