6 Fakta Terkini Banjir Kutai Timur, Status Masih Waspada, 2 Kecamatan Terendam

number6 PNG18549

Banjir di Kabupaten Kutai Timur Masih Mengancam Dua Kecamatan

Banjir yang melanda Kabupaten Kutai Timur (Kutim) mulai terjadi sejak 10 Desember 2025. Berdasarkan data dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kutim, sebanyak 18 kecamatan terdampak banjir. Namun, saat ini hanya dua kecamatan yang masih tergenang air, yaitu Kecamatan Telen dan Kecamatan Kaubun.

Kepala BPBD Kutai Timur, Sulastin, menjelaskan bahwa sebelumnya lima kecamatan terkena dampak banjir, namun kini kondisi telah membaik. Pernyataan ini disampaikan setelah dilakukan pemantauan lapangan dan rapat koordinasi lintas instansi pada Jumat (12/12/2025). Meski kondisi banjir berangsur surut, BPBD tetap menetapkan status waspada karena diperkirakan intensitas hujan masih tinggi hingga akhir Desember 2025.

Dua Kecamatan Masih Terendam Banjir

Di Kecamatan Telen, banjir masih menggenangi dua desa, yakni Desa Marah Haloq dan Desa Long Melah. Desa Marah Haloq menjadi wilayah terdampak terparah karena berada tepat di bantaran sungai dan jalur anak sungai. Sulastin menyebut bahwa ketinggian air di desa tersebut mencapai lebih dari satu meter pada puncak banjir. Saat ini, air sudah mulai turun, tetapi masih menggenangi sekitar 107 rumah warga.

Sementara itu, di Desa Long Melah, kondisi banjir dilaporkan telah berangsur surut dengan penurunan ketinggian air sekitar 40 hingga 50 sentimeter. Camat Telen, Petrus Ivung, menyebutkan bahwa ada delapan desa di wilayahnya yang terdampak banjir, termasuk Desa Marah Haloq, Long Melah, Long Segar, Kernyanyan, Long Noran, Muara Pantun, Juk Ayaq, dan Rantau Panjang.

Wilayah Terparah dan Perkembangan Terkini

Desa Marah Haloq dan Long Melah menjadi wilayah yang paling parah terkena dampak banjir. Rata-rata wilayah yang terdampak merupakan kawasan rumah yang berada di bantaran Sungai Telen dan Sungai Marah – Marah. Di bagian ulu, seperti Muara Pantun dan Juq Ayak, kondisi terlihat aman, sementara di bagian ilir, seperti Long Melah dan Marah Haloq, banjir masih tinggi.

Petrus Ivung menyebutkan bahwa banjir tahunan yang terjadi setiap bulan Desember tidak separah tahun 2019 dan 2022 lalu. Pada tahun tersebut, banjir menyebabkan kelumpuhan, bahkan perahu bisa digunakan hingga perkampungan. Namun, untuk tahun 2025 ini, ketinggian banjir mencapai 1,5 meter di wilayah ilir, Desa Marah Haloq dan Long Melah.

Debit Air Turun di Sejumlah Kecamatan

Selain Kecamatan Telen dan Kaubun, beberapa kecamatan lain yang sebelumnya terdampak kini dilaporkan sudah aman. Kecamatan Bengalon, Wahau, Kongbeng, Batu Ampar, dan Kaubun telah mengalami penurunan debit air secara signifikan.

Di Kecamatan Batu Ampar, banjir hanya tersisa di beberapa titik jalan karena kontur jalan yang menurun. Permukiman warga sudah aman. Sementara di Kecamatan Wahau, hanya satu desa yang sempat tergenang, yakni Desa Jaq Luay. Aktivitas masyarakat di wilayah tersebut kembali normal.

Faktor Penyebab Banjir

Terkait penyebab banjir, Sulastin menyebut bahwa tingginya curah hujan menjadi faktor utama. Namun, di beberapa wilayah, kondisi geografis serta sistem drainase yang kurang optimal turut memperparah dampak banjir. Di Bengalon, misalnya, selain hujan deras, wilayahnya merupakan daerah rawa dan dataran rendah. Drainase juga kurang berfungsi karena adanya lumpur dan sampah. Di Marahalo, penyebab utamanya adalah posisi desa yang berada di bantaran sungai.

Kesiapsiagaan dan Bantuan Logistik

Sejak banjir terjadi, BPBD Kutai Timur telah mengerahkan tim reaksi cepat (TRC) ke lokasi terdampak. Bantuan logistik berupa kebutuhan pokok seperti beras, minyak goreng, susu, dan bahan pangan lainnya juga disalurkan kepada warga terdampak. Sulastin menjelaskan bahwa BPBD bekerja sama dengan pemerintah desa, kecamatan, TNI, relawan, dan perusahaan-perusahaan yang ada di wilayah sekitar.

Selain logistik, BPBD Kutai Timur juga menyiagakan perahu karet di hampir seluruh desa terdampak. Di Kecamatan Wahau, disiagakan sembilan unit perahu karet, sementara di Kecamatan Telen dan Batu Ampar, perahu karet juga telah didistribusikan sesuai kebutuhan masing-masing desa.

Status Waspada

Meski kondisi banjir berangsur surut, BPBD Kutai Timur masih menetapkan status waspada. Hal ini mengingat intensitas hujan diperkirakan masih cukup tinggi hingga akhir Desember 2025, sehingga potensi banjir susulan tetap ada, terutama di wilayah hulu dan hilir sungai.

Sulastin mengimbau masyarakat untuk tetap waspada, menjaga kebersihan lingkungan, dan tidak membuang sampah sembarangan, terutama di sungai dan drainase. Ia menegaskan bahwa penanggulangan bencana ini membutuhkan peran semua pihak.


Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *