Biaya Produksi Buku Prinsip Ekonomi N Gregory Mankiw

AA1SiDMG



Pada kesempatan kali ini, saya Dimas Fachriyadi Mahasiswa S1 Akuntansi UNS akan membahas terkait biaya produksi oleh N. Gregory Mankiw.

Biaya Produksi dan Perannya dalam Pengambilan Keputusan Perusahaan

Dalam ilmu ekonomi mikro, pembahasan mengenai biaya produksi memiliki peran yang sangat penting karena menjadi dasar bagi perusahaan dalam mengambil berbagai keputusan strategis. Keputusan seperti berapa banyak barang yang harus diproduksi, kapan menambah tenaga kerja, dan bagaimana menetapkan harga tidak dapat dilepaskan dari analisis biaya. Oleh karena itu, pemahaman mengenai konsep biaya produksi menjadi bekal utama bagi mahasiswa ekonomi dan akuntansi.

Konsep Profit dalam Perspektif Ekonomi

Perusahaan diasumsikan memiliki tujuan utama untuk memaksimalkan laba (profit). Secara sederhana, laba didefinisikan sebagai selisih antara total penerimaan (total revenue) dan total biaya (total cost). Namun dalam ekonomi, biaya tidak hanya terbatas pada pengeluaran yang terlihat secara kasat mata.

Biaya dibedakan menjadi biaya eksplisit dan biaya implisit. Biaya eksplisit merupakan biaya yang benar-benar dikeluarkan dalam bentuk uang, seperti upah tenaga kerja dan sewa gedung. Sementara itu, biaya implisit adalah biaya peluang, misalnya pendapatan yang dikorbankan pemilik usaha karena menggunakan modal dan waktunya sendiri. Perbedaan ini melahirkan dua konsep laba, yaitu laba akuntansi dan laba ekonomi. Laba ekonomi dianggap lebih mencerminkan kondisi sebenarnya karena memperhitungkan seluruh biaya, baik eksplisit maupun implisit.

Economict profit = Total Revenue – Total cost (eksplicit + Implicit)

Accounting Profit = Total Revenue – Total eksplicit

Fungsi Produksi dan Produk Marjinal

Untuk memahami bagaimana biaya muncul, diperlukan pemahaman tentang fungsi produksi, yaitu hubungan antara input yang digunakan perusahaan dengan output yang dihasilkan. Salah satu konsep penting dalam fungsi produksi adalah marginal product of labor (MPL), yaitu tambahan output yang dihasilkan dari penambahan satu unit tenaga kerja dengan input lain tetap.

Dalam praktiknya, produk marjinal tenaga kerja cenderung mengalami penurunan seiring bertambahnya jumlah pekerja. Fenomena ini dikenal sebagai hukum hasil marjinal yang menurun (diminishing marginal product). Penurunan ini terjadi karena input tetap, seperti lahan atau mesin, harus dibagi ke semakin banyak pekerja sehingga produktivitas tambahan masing-masing pekerja menurun.

MPL = delta Q/delta L

Contoh dalam bentuk kurva

Biaya Produksi dan Biaya Marjinal

Penurunan produk marjinal memiliki hubungan langsung dengan biaya marjinal (marginal cost). Biaya marjinal adalah tambahan biaya yang harus dikeluarkan perusahaan untuk memproduksi satu unit output tambahan. Ketika produk marjinal menurun, biaya marjinal cenderung meningkat karena perusahaan harus mengeluarkan biaya lebih besar untuk memperoleh tambahan output yang sama.

Selain biaya marjinal, perusahaan juga menghadapi biaya tetap (fixed cost) dan biaya variabel (variable cost). Biaya tetap tidak berubah meskipun tingkat produksi berubah, sedangkan biaya variabel berubah seiring dengan jumlah output. Gabungan keduanya disebut biaya total (total cost).

Rumus mencari nilai MC = delta TC / delta Q

Contoh dalam bentuk kurva

Biaya Rata-Rata dan Efisiensi Produksi

Sebelum menjelaskan terkait biaya rata-rata kita harus tau lebih dulu terkait fixed cost, variable cost dan total cost seperti berikut:

– Fixed Cost (FC): tidak berubah meskipun output berubah (misalnya sewa tanah).

– Variable Cost (VC): berubah seiring jumlah produksi (misalnya upah tenaga kerja).

– Total Cost (TC): penjumlahan FC dan VC.

Dari gambar di atas kita bisa lihat kurva dari fc, vc dan tc sebagai contohnya agar lebih paham. Lalu ada tambahan pada MC yakni kita akan dapat nilai mc dari pertambahan nilai TC dari sebelum dan melihat pertambahan sesudahnya berapa atau lihat selisih angkanya.

Kemudian setelah kita tau apa itu fc, vc dan tc kita bisa tau nilai rata-ratanya dari biaya total, dapat dihitung biaya rata-rata yang terdiri dari average fixed cost (AFC), average variable cost (AVC), dan average total cost (ATC). AFC selalu menurun seiring peningkatan output karena biaya tetap dibagi ke lebih banyak unit produksi. ATC umumnya berbentuk huruf U, yang mencerminkan adanya efisiensi di awal produksi dan inefisiensi ketika produksi terlalu besar.

Dalam bentuk rumusnya kita bisa tau nilai itu semua dari:

– AFC = FC/Q

– AVC = VC/Q

– ATC = AFC + AVC

Lalu contoh perhitungan pada ketiganya yakni kemudian pada bentuk kurvanya

Hubungan MC dan ATC: Titik Efisiensi

Salah satu hubungan terpenting dalam teori biaya adalah:

– Jika MC < ATC, maka ATC menurun.

– Jika MC > ATC, maka ATC meningkat.

Akibatnya, kurva MC selalu memotong kurva ATC di titik minimum ATC, yang disebut efficient scale. Titik ini menunjukkan jumlah produksi paling efisien bagi perusahaan.

Angka Pendek vs Jangka Panjang

Dalam jangka pendek, beberapa input bersifat tetap, sehingga perusahaan terikat pada kapasitas tertentu. Namun dalam jangka panjang, semua input bersifat variabel. Perusahaan bisa memilih ukuran pabrik atau teknologi paling efisien untuk setiap tingkat output.

Di sinilah muncul konsep:

– Economies of scale: biaya rata-rata turun saat output meningkat.

– Constant returns to scale: biaya rata-rata tetap.

– Diseconomies of scale: biaya rata-rata naik karena masalah koordinasi dan manajemen

Penutup

Bab ini menegaskan bahwa biaya produksi bukan sekadar angka, tetapi alat analisis penting dalam pengambilan keputusan bisnis. Dengan memahami perbedaan biaya eksplisit dan implisit, perilaku biaya marjinal, serta skala produksi yang efisien, perusahaan dapat menyusun strategi produksi dan harga secara rasional untuk mencapai keuntungan maksimal dan memohon maaf jika masih ada yang kurang jelas dan lainnya terima kasih.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *