Peran Gajah dalam Bantuan Pembersihan Pasca Banjir Bandang
Empat ekor gajah yang terlatih khusus, yaitu Abu, Mido, Ajis, dan Noni, turut serta dalam upaya pembersihan puing-puing kayu dan material berat yang terseret arus banjir bandang di Kabupaten Pidie Jaya, Aceh. Gajah-gajah ini berasal dari Pusat Latihan Gajah (PLG) Share dan telah memiliki pengalaman panjang dalam membantu pembersihan pasca bencana.
Kehadiran gajah-gajah ini sangat penting karena mereka mampu memindahkan material yang sulit dijangkau oleh alat berat atau manusia. Dengan kekuatan dan kelincahan mereka, gajah dapat membuka akses jalan darat antar desa yang masih terputus dan membersihkan lokasi-lokasi yang tidak bisa diakses oleh kendaraan.
Kekuatan dan Kelincahan Gajah
Selain itu, gajah juga digunakan untuk mengantar logistik kepada para korban banjir di Pidie Jaya, termasuk mencari korban yang belum ditemukan. Proses pembersihan akan dilakukan selama tujuh hari di lokasi terdampak banjir bandang di Kecamatan Meureudu dan Meurah Dua.
Keberadaan gajah dalam operasi penanganan bencana ini tidak hanya sebagai alat bantu fisik, tetapi juga sebagai sarana trauma healing bagi anak-anak korban banjir. Kehadiran gajah yang jinak dan ramah mampu menghadirkan suasana ceria, mengurangi ketegangan, dan membantu memulihkan kondisi psikologis masyarakat terdampak bencana.
Reaksi Haru Netizen di Media Sosial
Peran gajah dalam penanganan bencana ini mendapat perhatian luas dari warganet. Banyak yang mengungkapkan rasa haru dan apresiasi atas bantuan yang diberikan oleh gajah, terutama mengingat habitat mereka yang semakin terancam oleh aktivitas manusia. Beberapa komentar menyoroti ironi bahwa manusia sering merusak habitat gajah, namun saat bencana, gajah justru membantu manusia membersihkan rumah mereka.
Harapan besar pun disampaikan agar gajah Sumatera tetap terlindungi dan dihargai sebagai bagian penting dari ekosistem dan budaya lokal. Beberapa komentar netizen seperti:
- “Rumah mereka di hancurkan oleh manusia, sekarang mereka membantu manusia membersihkan rumah manusia….. semoga gajah sumatera tetap terlindungi…”
- “Manusia yg serakah itu menganggap Gajah adalah Hama bagi mreka, tp mereka tdk sadar bhwa manusia sendiri yg merebut rmh Gajah.. ketika ada musibah Gajah dgn tulus membantu manusia-manusia itu Ya Allah.. sehat-sehat hewan berhati baik, smoga hak kehidupan dan rumah gajah segera kembali.. aamiin aamiin,”
- “Masyaa Allah klu begini Gajah dibutuhkan tenaganya,tapi kemaren2 mereka diburu,ditembaki,dibunuh sama manusia2 yg ga punya hati nurani tapi semoga setelah ini membawah hikmah yg baik buat kita semua agar menyangi gajah dan binatang lainnya,”

Dukungan Psikologis Melalui Kehadiran Gajah
Kapolres Pidie Jaya, AKBP Ahmad Faisal Pasaribu, menambahkan bahwa kehadiran gajah tidak hanya berfungsi sebagai alat bantu fisik, tetapi juga sebagai sarana trauma healing bagi anak-anak korban banjir. Kehadiran gajah yang jinak dan ramah mampu menghadirkan suasana ceria, mengurangi ketegangan, dan membantu memulihkan kondisi psikologis masyarakat terdampak bencana.
Lebih lanjut, Faisal menyebut langkah ini diambil sebagai bentuk komitmen Polri dan stakeholder terkait untuk memberi pelayanan humanis dan responsif. Melalui kerja sama antara Polres Pidie Jaya dan BKSDA Aceh ini, proses pembersihan diharapkan dapat berlangsung lebih cepat.

Hari Ke-13, Korban Banjir Bandang di Pidie Jaya Desak Tumpukan Kayu di Sungai Dibersihkan
Hingga memasuki 13 hari pasca banjir bandang di Kabupaten Pidie Jaya, tumpukan kayu hampir 1 km belum kunjung dibersihkan. Tumpukan kayu bulat besar dan kecil belum dibersihkan di Krueng Meureudu, di perbatasan Dayah Husen dengan Pante Gelima, yang menjadi ancaman banjir berulang bagi pemukiman warga tinggal di dekat DAS.
Dampak kayu gelondongan tersangkut di sungai, menyebabkan alur sungai di lokasi lain lenyap tertimbun lumpur. Banjir kali ini sangat parah terjadi di gampong kami, banyak hewan ternak mati terkubur lumpur banjir.

HARI ke 13 Pencarian Korban di Tapteng, Polisi Kerahkan 4 Ekor Anjing K9
Sejumlah korban longsor di Desa Bair, Kecamatan Tapian Nauli, Kabupaten Tapanuli Tengah masih belum ditemukan. Petugas masih melakukan pencarian hingga sekarang hari ke 13, Senin (8/12/2025). Sejumlah upaya telah dikerahkan. Alat berat untuk mengangkat puing-puing telah dikerahkan. Polisi juga menurunkan empat pasukan anjing K9.
Anjing-anjing yang terlatih dengan kemampuan Search and Rescue menyusuri area kampung rata dengan tanah. Terlihat, personel Polisi membawa tongkat menusuk-nusuk tanah, lalu anjing K9 mengendus lubang bekas tusukan untuk mengidentifikasi korban. Secara perlahan-lahan baik pelatih dan anjingnya menyusuri area yang diperkirakan korban berada.



















