Menulis tentang rendahnya kemampuan berbahasa Inggris masyarakat Indonesia sering kali menjadi topik yang menyentuh. Banyak orang merasa malas untuk membahasnya, karena sudah menjadi rahasia umum bahwa minat baca dan tulis belum menjadi budaya di tanah air. Bahasa Indonesia sendiri belum sepenuhnya disukai oleh warga negara sendiri, apalagi bahasa asing seperti bahasa Inggris yang bahkan tidak dikenal dengan baik.
Kemampuan berbahasa Inggris kebanyakan warga Indonesia masih sangat terbatas. Tidak hanya itu, generasi muda pun seringkali kesulitan dalam mendapatkan nilai TOEFL yang memadai atau berbicara dalam bahasa Inggris dengan lancar. Hal ini bukan hanya tanggung jawab dari generasi muda, tetapi juga pihak-pihak lain yang turut serta dalam proses pembelajaran.
Berikut adalah tiga pihak yang harus mengevaluasi diri mereka:
1. Pemerintah
Pemerintah, khususnya Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), memiliki peran penting dalam menentukan arah pendidikan bangsa. Kurikulum yang digunakan menentukan bagaimana generasi muda akan belajar dan berkembang. Sayangnya, kurikulum saat ini dinilai masih jauh dari kata “baik”.
Beberapa hal yang menjadi masalah antara lain:
– Metode pengajaran yang tidak sesuai dengan perkembangan teknologi. Masih banyak guru yang menggunakan metode ceramah, meskipun ada berbagai metode modern yang bisa digunakan.
– Kurikulum yang tidak “membumi”. Meskipun ada rancangan indah, implementasinya sering kali tidak sesuai dengan harapan.
– Supervisi yang jarang dilakukan. Pengawasan terhadap kompetensi guru sering kali tidak konsisten, sehingga membuat guru tidak terdorong untuk meningkatkan kualitas pengajaran.
Saran untuk pemerintah:
– Meningkatkan supervisi secara rutin, setidaknya sebulan sekali untuk setiap guru.
– Melibatkan guru dalam perumusan dan revisi kurikulum agar lebih sesuai dengan kondisi nyata di lapangan.
2. Sekolah
Sekolah merupakan pelaku utama dalam menciptakan murid yang mahir berbahasa Inggris. Guru-guru bahasa Inggris menjadi tokoh sentral dalam proses belajar mengajar. Namun, kompetensi mereka sering kali tidak memadai.
Masalah yang sering terjadi antara lain:
– Pelatihan yang tidak efektif. Banyak guru hanya mengumpulkan sertifikat tanpa menerapkan ilmu yang didapat.
– Proses belajar mengajar yang membosankan. Sering kali guru hanya memberikan penjelasan dan tugas, tanpa adanya interaksi yang menarik.
– Tidak adanya evaluasi rutin. Tanpa supervisi yang konsisten, guru cenderung kembali ke cara mengajar lama.
Saran untuk sekolah:
– Memberikan penghargaan yang layak kepada guru, bukan hanya sertifikat.
– Mendorong guru untuk terus mengembangkan kompetensi melalui pelatihan dan seminar.
– Menciptakan suasana belajar yang menarik dan interaktif.
3. Orangtua/Wali Murid
Orangtua dan wali murid juga memiliki peran penting dalam pengembangan kemampuan berbahasa Inggris anak. Namun, banyak dari mereka tidak aktif dalam proses pembelajaran.
Masalah yang sering muncul antara lain:
– Tidak menguasai bahasa Inggris. Banyak orangtua tidak bisa berbicara dalam bahasa Inggris, sehingga tidak bisa menjadi contoh bagi anak.
– Tidak menciptakan lingkungan yang mendukung. Anak cenderung meniru perilaku orangtua, termasuk dalam penggunaan bahasa.
Saran untuk orangtua:
– Membuat suasana rumah yang mendukung pembelajaran bahasa Inggris, seperti menyediakan buku berbahasa Inggris atau menggunakan salam dalam bahasa Inggris.
– Terlibat aktif dalam proses pembelajaran anak, baik melalui les privat maupun bimbingan di rumah.
Semua Harus Bekerja Sama
Untuk meningkatkan kemampuan berbahasa Inggris masyarakat Indonesia, semua pihak harus bekerja sama. Pemerintah, sekolah, dan orangtua harus saling mendukung dan berkolaborasi. Dengan kerja sama yang baik, impian akan generasi emas yang mahir berbahasa Inggris bisa tercapai.
Dengan menguasai bahasa Inggris, pengetahuan bisa lebih luas, tidak hanya terbatas pada wilayah dalam negeri, tetapi juga sampai ke luar negeri. Semoga saja, dengan peran aktif dari ketiga pihak tersebut, pembelajaran bahasa Inggris bisa semakin baik dan memberikan manfaat bagi generasi muda Indonesia.



















