Perjalanan BP Tanjungpinang dalam Membangun Kawasan FTZ
Pada acara podcast yang dipandu oleh Vero dari Tribun Batam, Coki Wijaya Saputra, Kepala Badan Pengusahaan (BP) Tanjungpinang, memberikan wawancara menarik tentang perjuangan dan pencapaian BP Tanjungpinang. Ia mengatakan bahwa kota ibu kota bisa menjadi contoh yang baik bagi daerah lain, termasuk Batam yang berhasil membangun kawasan yang indah.
Dalam wawancara tersebut, Coki didampingi oleh Anggota II Bidang Pelayanan Terpadu BP Tanjungpinang, M. Effendi, yang menjelaskan perjalanan BP Tanjungpinang sejak awal berdirinya pada tahun 2007. Dibentuk bersama dengan BP Batam, BP Bintan, dan BP Karimun melalui PP 47 Tahun 2007, BP Tanjungpinang kemudian disempurnakan melalui PP 41 Tahun 2017 dan PP 1 Tahun 2021.
Tantangan dan Keunggulan BP Tanjungpinang
Salah satu tantangan terbesar yang dihadapi BP Tanjungpinang adalah keterbatasan lahan. Dengan hanya 2.200 hektare yang terbagi dalam dua kawasan enclave, yakni Dompak untuk industri dan Senggarang untuk Central Business District (CBD), BP Tanjungpinang harus bekerja keras untuk memaksimalkan potensi yang ada.
Namun, BP Tanjungpinang memiliki keunggulan unik, yaitu belum adanya sistem Hak Pengelolaan Lahan (HPL) seperti di Batam. Hal ini memberikan lebih banyak pilihan bagi pelaku usaha, baik dalam bentuk hak milik atau Hak Guna Usaha (HGU) maupun Hak Guna Bangunan (HGB).
Proyek-Proyek Besar dan Investasi
Tahun 2025 menjadi tahun keemasan bagi BP Tanjungpinang. Target membawa tiga investor telah direalisasi, dengan dua investor sudah mulai membangun dan satu dalam proses perizinan. Salah satu investor yang menarik perhatian adalah dari Taiwan, yang menyampaikan rencana investasi fantastis sebesar 500 juta USD di tahap pertama.
Investor Taiwan ini memilih Tanjungpinang karena perlakuan yang baik dari BP Tanjungpinang, yang membuat mereka merasa seperti di kampung halaman sendiri. Proyek ini akan fokus pada manufaktur makanan halal.
Selain itu, BP Tanjungpinang juga memiliki proyek perakitan pesawat amfibi bermerek Hopper Wing. Lisensi Hopper Wing hanya ada dua di dunia, salah satunya diberikan kepada Indonesia di Pulau Dompak, Tanjungpinang. Pesawat ini menggunakan tenaga baterai dan dapat terbang di atas air, cocok untuk provinsi kepulauan.
Pencapaian dan Kendala
Salah satu pencapaian besar BP Tanjungpinang adalah mengaktifkan kembali Pelabuhan Tanjung Mocho yang sebelumnya mangkrak. Pelabuhan ini kini aktif dengan 10 kapal yang sandar selama 7 bulan terakhir, meskipun ada kendala administratif yang membuat pelabuhan tersebut diminta kembali oleh Dirjen Perhubungan Laut.
Ketika ditanya tentang kontribusi kepada negara, Coki memberikan angka yang mencengangkan, hampir 90 miliar rupiah dalam setahun. Namun, BP Tanjungpinang masih belum bisa resmi menyetor karena belum memiliki status kelembagaan yang lengkap.
Pelayanan dan Kolaborasi
BP Tanjungpinang memberikan pelayanan istimewa bagi investor. Effendi menegaskan bahwa semua tenant akan diperhatikan satu per satu, dengan pelayanan maksimal dari perizinan A sampai Z. Kolaborasi dengan Pemkot Tanjungpinang dan Pemprov Kepri juga berjalan sangat baik karena Gubernur Kepri adalah Ketua Dewan Kawasan.
Motto pelayanan BP Tanjungpinang adalah “Cepat, Tepat, dan Tuntas.” Kantor BP Tanjungpinang terbuka bagi pengusaha yang ingin mendiskusikan masalah dan kendala mereka.
Isu Sensitif dan Harapan
Isu sensitif rokok ilegal yang beredar di kawasan Tanjungpinang dibantah oleh Coki. Ia menegaskan bahwa rokok yang beredar bukan dari BP Tanjungpinang, karena cukai rokok dan alkohol sudah dihentikan oleh Bea Cukai sejak 2019.
Tantangan terbesar BP Tanjungpinang adalah masalah kelembagaan. Coki dan Effendi sepakat bahwa kelembagaan ini sangat krusial untuk kepercayaan investor. Mereka berharap pemerintah pusat memberikan perhatian lebih agar Kepri bisa maju dan menyaingi Singapura.
Mimpi Besar dan Target Tahun 2026
Coki mengungkapkan mimpi besar BP Tanjungpinang untuk menjadi saingan Singapura. Effendi menekankan bahwa Kepri memiliki keunggulan strategis luar biasa, dengan kawasan FTZ dan KEK yang paling banyak.
Untuk tahun 2026, BP Tanjungpinang menargetkan beberapa proyek besar seperti Pelabuhan Tanjung Geliga di Senggarang yang akan menghubungkan langsung ke Singapura, Malaysia, dan Batam. Selain itu, proyek properti di lahan 400 hektare untuk perumahan dengan konsep kebun, rumah sakit di kawasan Senggarang, serta kampus dan CBD yang sudah berdiri.
Di akhir wawancara, Coki dan Effendi menyampaikan pesan kepada pemerintah pusat untuk segera menyelesaikan kelembagaan BP Tanjungpinang, menambah anggaran, dan memberi kesempatan untuk membangun gedung, pelabuhan, dan infrastruktur. Effendi juga meminta pemerintah pusat memperhatikan Badan Pengusahaan yang ada di Kepri.



















