Hari kedua di Roma akan menjadi hari yang penuh dengan pengalaman baru. Kami merencanakan untuk mengunjungi Basilica Santo Petrus (Saint Peterโs Basilica). Pagi itu, kami berjanji untuk bertemu dengan teman saya, A, yang sudah lama tinggal di Italia, pada pukul 9 pagi di stasiun Termini. Dia akan membawa kami ke St Peterโs Basilica dan beberapa tempat lainnya. Selain itu, dia juga akan mengantarkan kami ke toko-toko untuk membeli oleh-oleh, baik makanan maupun barang-barang lain.
Pagi itu, ketika kami akan pergi bertemu dengan teman saya A, kami berpapasan dengan ibu Dubes di ruang tamu. Ibu tersebut menahan kami untuk sarapan terlebih dahulu. Kami pun segera menyantap sarapan sebagai bentuk penghormatan kepada tuan rumah. Setelah selesai, kami langsung menuju pemberhentian bus yang tidak jauh dari wisma. Sesampai di Eur Fermi, kami naik metro menuju Termini. Saya merasa semakin mahir dalam menggunakan transportasi umum di Vatikan City dan Roma ini. Setibanya di Termini, saya langsung menghubungi teman saya A. Saya sengaja berdiri di salah satu gerai yang cukup ternama agar A mudah mencari kami. Setelah bertemu, kami langsung menuju ke bus stop dan naik bus nomor 64 menuju St Peterโs Basilica. Saat itu, beberapa bus 64 lewat, dan kami memilih yang masih kosong agar bisa duduk. Kami turun di Cavalleggeri/S. Pietro, lalu harus berjalan menuju basilica. Banyak orang sedang berjalan ke arah yang sama. Tahun ini adalah tahun Yubileum, jadi wajar jika banyak orang datang untuk berziarah ke Porta Sancta di Roma.
Ketika kami mendekati basilica, antreannya sudah cukup panjang meskipun belum jam 10 pagi. Cuaca pagi itu masih sejuk, jadi tidak masalah jika harus antre. Beruntung antrean mengalir cukup cepat. Setelah melalui pemeriksaan ketat oleh petugas, kami akhirnya tiba di lapangan St Peter (Piazza San Pietro). Wah, bahagia sekali rasanya akhirnya bisa menginjakkan kaki di tempat ini dan mimpi saya menjadi kenyataan. Selama ini saya hanya melihat tempat ini dari foto-foto atau video, dan sekarang … saya berada di tempat ini. ๐
Piazza San Pietro pagi itu penuh dengan manusia. Kami ingin memasuki basilica, tapi informasi yang kami dapatkan bahwa basilica baru dibuka pada pukul 2 siang. Wah, masih harus menunggu lama. Teman saya A langsung mencari petugas dan bertanya apakah ada acara khusus karena banyak orang berdiri di dekat pagar pembatas dan juga ada banyak orang yang duduk di kursi-kursi yang ada di lapangan tersebut. Ternyata, hari itu ada audiensi dengan Paus. Dia menunjukkan keheranannya karena biasanya audiensi dengan Paus dilakukan pada hari Rabu.
Matahari mulai bersinar terang dan udaranya terasa semakin panas. Tapi cuaca seperti ini justru bagus untuk berfoto-foto. Saya pun mulai sibuk dengan kamera saya ketika tiba-tiba saya mendengar orang-orang memanggil-manggil “papa” beberapa kali dan mereka juga bertepuk tangan. Heh? Saya penasaran dan mulai berjalan mendekati kerumunan orang tersebut. Saya masih tidak tahu apa yang terjadi … lalu saya melihat layar lebar yang ada di situ, dan ternyata … Paus Leo sedang berkeliling di antara para pengunjung. Wah, saya langsung sat set mencoba untuk sedapat mungkin mendekati pagar pembatas … siapa tahu bisa melihatnya dari dekat. Saya terus mengamati layar dan mengikuti pergerakan Paus sudah sampai di mana dengan kamera siap di tangan … begitu sudah cukup dekat dengan tempat saya berdiri, saya segera berjalan maju mencari celah kosong. Maklum yang berdiri di depan saya orangnya tinggi-tinggi, jadi saya harus sedapat mungkin maju ke depan … tapi tidak pakai sikut kanan sikut kiri ya … saya masih sopan lah kalau untuk urusan ini. Saya akhirnya berhasil mengambil foto Paus dan juga membuat video. Wuih senang sekali rasanya … bisa melihat Paus dari dekat.
Ketika Paus naik ke podium dan duduk, acara audiensi pun dimulai. Ada pembacaan doa dan tentu saja pidato dari Paus. Mengingat jam 2 siang masih lama, kami memutuskan untuk keluar dulu dan kembali lagi nanti saat basilica sudah dibuka. Apakah itu keputusan yang baik??? Mungkin ya mungkin tidak. ๐
Kami keluar dari basilica. Tujuan pertama mencari cafe untuk minum hot chocolate dan kopi; serta makan makanan kecil seperti roti. Namun, yang terjadi adalah … bukannya langsung mencari cafe … kami malah mampir di beberapa toko souvenir untuk membeli oleh-oleh. Jadi kami berbelanja dulu baru mencari cafe. Setelah membeli beberapa souvenir, kami kemudian mencari cafe. Kami menemukan sebuah restoran, tetapi nampak sepi dan pegawainya seperti belum siap, dan yang menyebalkan salah satu dari staf mereka berkata kalau di situ kita harus makan dan tidak hanya minum saja. Ih … dia pikir kami tidak punya uang untuk beli makanan juga? Sebenarnya kami juga mau makan, tetapi bicaranya membuat kami muak sehingga kami segera meninggalkan tempat itu sambil menggerutu tentunya.
Tidak jauh dari situ kami menemukan sebuah cafe kecil … wuih ramai sekali cafe itu. Kami beruntung masih ada tiga kursi kosong dan kami pun menempati tempat itu. Kedua teman saya memesan kopi dan saya tentu saja chocolate. Kali ini saya ingin ice chocolate, tetapi mereka ternyata tidak punya minuman itu, namun bisa menambahkan es jika mau. Saya tidak masalah yang penting minum coklat. Untuk mengganjal perut, kami memesan croissant yang ukurannya lumayan besar. Kami makan sambil ngobrol tentu saja. Oh iya … minuman chocolate di sini ternyata berbeda dengan yang saya bayangkan … ini sepertinya coklat yang dilelehkan/dicairkan … jadi ketika diberi es dia jadi seperti stuck di gelas dan rasanya manis sekali … ya seperti makan coklat yang meleleh ketika kena panas gitu.
Setelah kenyang kami segera meninggalkan tempat itu. Kami mau menuju Trevi Fountain. Namun, kami terhenti saat melihat ada deretan toko souvenir dan tentu saja kami tergoda untuk mampir dan berbelanja lagi. Di tempat itu harga barang-barangnya lebih murah dibandingkan harga di toko-toko yang ada di dekat basilica. Puas berbelanja kami pun segera menuju stasiun Ottaviano untuk naik metro ke Barberini. Dari Barberini kami masih harus berjalan menuju Trevi. Kami sempat berhenti dulu di Piazza del Popolo untuk berfoto. Setelah puas kami melanjutkan perjalanan kami. Di sepanjang jalan berjajar pertokoan dan tentu saja teman saya (bukan A) menjadi berbinar-binar matanya ketika dia menemukan satu toko kosmetik dengan brand yang katanya sih terkenal di Indonesia … saya mana tahu soal begituan. Kami pun masuk ke toko itu dan dia mulai melihat-lihat dan memilih barang yang dia mau, sementara saya … segera keluar dan menunggu di luar. Terlalu banyak orang di situ dan sulit untuk bergerak dengan leluasa. Teman A pun segera menyusul saya keluar. Setelah beberapa waktu teman saya pun keluar dengan wajah ceria karena sudah membeli produk yang diinginkannya.
Kami melanjutkan perjalanan kami, tetapi di tengah jalan berhenti ketika melihat gelato. Pokoknya beli gelato dulu, Trevi bisa menunggu. Kami pun membeli gelato dan duduk di salah satu tempat terbuka untuk menghabiskan gelato yang kami beli. Ketika gelato habis, kami segera menuju Trevi Fountain dan … penuh dengan manusia. Bagaimana mungkin bisa mendekat. Orang-orang berusaha untuk mencari tempat terdekat dengan pagar pembatas agar dapat mengambil foto dengan latar belakang Trevi Fountain. Ada yang turun ke bawah untuk membuang coin. Katanya jika kita membuang coin ke fountain itu kita bisa kembali lagi ke Roma. Ah ini sih mitos … tapi banyak yang percaya lho. ๐ Cara membuangnya pun ada aturannya. Jangankan ikut turun untuk bisa membuang coin … mendekati pagar pembatas saja sudah susah. Jadi ya cukup puas lah melihatnya dari kejauhan. Menurut keterangan yang saya dapatkan, Trevi ini merupakan Baroque fountain terbesar di kota ini. Patung-patungnya dipahat dengan indah dan airnya pun terlihat bening sehingga kita bisa melihat banyak coin di dalamnya. Sayang, saya tidak dapat memotret airnya karena penuh dengan kepala manusia yang menghalanginya. Tapi tak mengapa, keindahan tersebut sudah terekam di dalam otak saya.
Jam sudah menunjukkan pukul 4 sore berarti kami harus cepat-cepat kembali ke St Peter’s Basilica karena kami ingin masuk ke dalam Basilica tersebut. Ketika kami tiba … antrean sudah mengular … panjang sekali. Waduh … bagaimana ini … apakah kami bisa masuk karena kalau tidak salah pada bulan Oktober Basilica tutup pada jam 6:30 petang. Berbeda dengan antrean di kala pagi hari, sore itu antrean berjalan amat lamban. Ketika sedang mengantre tiba-tiba saya mendengar ada orang berbahasa Indonesia di belakang saya, dan benar saja ada sepasang suami istri asal Bekasi yang juga sedang mengantre. Mereka mau mengambil undangan untuk menghadiri misa pada hari Minggu (keesokan harinya) di lapangan St Peter’s. Kami sempat berbincang-bincang dan dia bertanya apakah saya sudah ke Basilica San Giovani di Laterano (Archbasilica of Saint John Lateran). Waduh … belum sempat ke sana dan menurut teman saya A, Basilica San Giovani itu kedudukannya lebih tinggi daripada St Peter’s Basilica dan dia adalah induk gereja-gereja di dunia. Wah … teman saya ini Muslim, tetapi pengetahuan dia tentang gereja-gereja di Roma ini patut diacungi jempol. Hormat saya padanya. ๐
Cukup lama kami mengantre … jam sudah menunjukkan pukul 6 lebih tetapi kami belum juga bisa melewati penjagaan. Ketika kami sudah sangat dekat dengan penjagaan tiba-tiba diumumkan kalau basilica sudah ditutup. Pengunjung pun kecewa karena sedikit lagi kami bisa melewati penjagaan tersebut. Di dalam piazza pengunjung masih mengular dan nampaknya sulit untuk bergerak juga karena saking banyaknya pengunjung hari itu. Ya sudah … kami segera meninggalkan antrean dengan perasaan sedikit kecewa. Walaupun saya kecewa karena tidak bisa memasuki Basilica hari itu, saya masih bersyukur karena bisa melihat Paus dari jarak yang lumayan dekat. Saya bisa kembali lagi ke Basilica di lain waktu, namun, melihat Paus dari dekat kesempatannya sangat tipis.
Hujan rintik mulai turun, kami pun segera berteduh di kedai pizza di dekat pintu masuk lapangan St Peter’s Basilica. Kami membeli pizza untuk makan malam. Kami beli yang potongan. Namun, biarpun potongan ukurannya tetap besar. Kami tidak bisa makan dengan santai karena kedai itu akan segera tutup dan kursi-kursi yang ada di situ sudah mulai mereka angkati. Saya suka rasa pizza mereka. Kejunya terasa sekali dan dagingnya juga banyak. Sangat cocok di lidah saya. Setelah makan kami segera kembali ke Termini. Teman saya A harus segera kembali ke rumahnya untuk menyiapkan makan malam bagi suaminya. Dia juga harus memasak untuk acara makan siang keesokan harinya (hari Minggu). Kereta menuju Termini sangat penuh dan di sini para copet mulai beraksi. Seorang perempuan (penampilannya seperti orang kantoran) berusaha membuka tas teman A, namun segera dipukul oleh A. Mungkin karena ketahuan dia langsung turun di stasiun terdekat. Penumpang yang berdiri di dekat kami tidak menyangka kalau perempuan tersebut adalah copet. Semakin kencang kami memeluk tas yang kami bawa. ๐ Setibanya di Termini kami pun segera berpisah dan berjanji untuk bertemu lagi esok hari.
Setibanya di Wisma, kami melihat banyak mobil diparkir di halaman Wisma. Rupanya sedang ada acara di kedubes yang letaknya di belakang Wisma. Saya bisa mendengar suara beberapa orang sedang berbincang dan juga suara musik. Kami segera masuk kamar kami. Teman saya segera keluar lagi untuk mampir sebentar ke acara tersebut. Namun, tunggu punya tunggu kok dia tidak muncul-muncul juga. Akhirnya saya menyusul dia ke ruang serbaguna di kedutaan dan ternyata masih banyak para tamu di sana. Rupanya menteri agama juga hadir di acara tersebut. Saya sih tidak heboh seperti tamu yang lain yang minta berfoto dengannya, saya hanya berbincang dengan beberapa tamu yang hadir. Setelah berbasa basi dengan beberapa tamu, kami pun segera kembali ke kamar untuk mandi dan beristirahat.
Sebelum tidur saya sempat memberitahu teman saya kalau besok (hari Minggu) saya akan kembali lagi ke St Peter’s Basilica sekitar jam 6 pagi dan mencoba peruntungan saya, siapa tahu bisa masuk ke Basilica. Dia memutuskan tidak akan ikut dan akan menunggu saya di wisma agar bisa beristirahat karena kami harus pergi untuk menghadiri acara makan siang di rumah A yang berada di desa di luar kota Roma.



















