Petualangan Menjelajahi Lae Treup di Rawa Singkil
Kawasan Lae Treup di kawasan Rawa Singkil, Kabupaten Aceh Singkil, menjadi destinasi yang sangat diminati oleh para pecinta petualangan. Di sini, pengunjung bisa menikmati keindahan alam yang masih terjaga dan melihat berbagai jenis flora serta fauna langka yang hidup di alam liar.
Pemandangan pertama yang dapat dilihat adalah bangau putih yang terbang mengepak sayap mengiring perahu yang membelah hamparan sungai Singkil. Tak lama setelahnya, gerombolan kerbau juga tampak berjalan di pinggir sungai mencari hamparan rumput. Tingkah laku hewan-hewan ini menjadi awal dari petualangan menuju Lae Treup.
Perjalanan ke Lae Treup dimulai dengan naik perahu menyusuri sungai dari permukiman penduduk Rantau Gedang dan Teluk Rumbia, Kecamatan Singkil. Dua desa ini merupakan titik paling dekat untuk memasuki kawasan Lae Treup. Setelah melewati sungai Singkil yang lebarnya sekitar 300 meter, perahu akan belok ke kiri masuk ke sungai kecil sebagai alur pelayaran masuk ke Lae Treup.
Hamparan bunga vanda hookeriana menjadi pandangan pertama usai menerobos sesaknya tumbuhan bakung di sepanjang alur Lae Treup. Masuk lebih dalam lagi, pengunjung akan menemui pondok pertama pencari lele, pohon malaka, kantong semar, serta aneka tanaman khas akuatik yang memanjakan mata. Pondok pertama ini menjadi tujuan umum bagi wisatawan yang ingin merasakan sensasi berpetualang ke Lae Treup dalam waktu singkat.
Sampai di pondok pertama, pengunjung sudah bisa menikmati hamparan belantara rawa Singkil yang dramatis. Lebih-lebih di kawasan itu masih bisa menikmati layanan jaring seluler. Namun, pondok pertama bukan tujuan akhir. Dari sini, petualangan menuju Lae Treup hutan Rawa Singkil benar-benar dimulai.
Perahu kembali melaju pelan. Perlu usaha keras agar bisa menerobos tumbuhan bakung yang semakin sesak. Jika pelayaran naik perahu sampai pondok pertama dilewati dengan mulus, tidak dengan petualang setelahnya. Berkali-kali mesin perahu mati akibat kipasnya terlilit akar bakung. Keringat bercucuran, tapi disitulah sensasi sesungguhnya. Sambil memperbaiki kipas robin, langkah alternatif agar perahu melaju adalah menarik pohon bakung yang berderet di sisi kiri dan kanan.
Setelah bersusah payah melewati padatnya bakung yang menutup alur sungai, tibalah di pondok kedua tempat para pencari lele.
Saatnya makan siang sambil menghilangkan keringat yang membasahi sekujur tubuh. Sayangnya, saat itu pondok sedang kosong. Kalaulah ada penghuninya bisa membeli lele. Lele Rawa Singkil, terkenal besar dan lezat hanya dengan dibakar di atas bara api.
Satu lagi ritual yang tak boleh dilewatkan bila berpetualang ke Rawa Singkil adalah mandi air sungai yang jadi jalan bagi perahu ke luar masuk. Airnya payau berwarna coklat, namun bersih dan dingin. Paling mengasikan tentu gigitan dari ikan-ikan berukuran mini ke sekujur tubuh sambil berendam di air. Gigitan ikan menjadi terapi alami yang bisa dinikmati di pondok kedua belantara hutan rawa Singkil.
Selesai memulihkan tenaga, perjalanan dilanjutkan. Perjalan melewati hamparan hutan rawa semakin menguras tenaga, hingga akhirnya menjelang senja tiba di pondok terakhir pencari lele. Tujuannya menginap. Menginap merupakan cara sempurna menikmati hutan Rawa Singkil seutuhnya. Malam hari memberikan sensasi berbeda karena bisa mendengar suara hewan liar dalam hening malam.
Lokasi menginap tentu saja pondok pencari lele. Para pencari lele, dengan senang hati berbagai tempat. Bawalah pancing, ikan mudah saja dipancing dengan umpan sisa nasi. Ikan bisa dijadikan menu sarapan pagi hari. 
Pada malam hari, benar saja, aneka jenis hewan penghuni rawa Singkil saling bersahutan menemani. Letih sepanjang hari membuat tidur di pondok sederhana begitu lelap. Pagi berganti, setelah sarapan saatnya pulang dengan ditemani suara burung.
Dalam perjalanan pulang di kawasan Malako, salah satu tempat di alur Lae Treup, seekor induk orangutan terlihat dari kejauhan sedang menggendong anaknya. Sayang hanya sekejap mantap, orangutan menghilang. Tapi sensasi melihat orangutan di alam liar menyempurnakan petualang ke Lae Treup.
Lae Treup bisa dijangkau menggunakan perahu dari Desa Rantau Gedang dan Teluk Rumbia. Dua desa di bantaran sungai itu berada di wilayah Kecamatan Singkil. Dari pusat Kota Singkil, sekitar 30 menit menggunakan kendaraan roda dua atau roda empat menuju Rantau Gedang dan Teluk Rumbia. Selanjutnya menuju Lae Treup naik perahu yang biasa disewakan oleh warga lokal. Sewanya bisa dibicarakan, biasanya dikisaran Rp 500 ribu.
“Kalau mau menginap atau masuk lebih dalam lagi bisa dibicarakan dengan pemilik perahu,” kata Amrul Badri warga Teluk Rumbia. Untuk menikmati hamparan bunga vanda hookeriana dan mengintip kehadiran orangutan, harus berpetualang lebih dalam ke hutan aquatik Rawa Singkil. Ini butuh waktu seharian, tentu disarankan menginap. 
Ke Lae Treup juga dapat ditempuh naik perahu dari sungai Rintis yang memisahkan permukiman penduduk Desa Suka Makmur dengan Siti Ambia. Namun lebih jauh dan biaya sewa perahu lebih mahal. Pastikan jika hendak berpetualang ke dalam Rawa Singkil melalui alur Lae Treup, membawa perbekalan makanan dan bahan bakar cukup.
Wisata petualang ke Lae Treup, wajib ditemani pemandu. Sebab di dalam terdapat banyak alur sungai yang bisa membuat tersesat. Pemandu bisa memanfaatkan jasa pemilik perahu, untuk menghemat biaya.
Bupati Aceh Singkil, Safriadi ditemani sang istri Hj Habibatussania, sudah merasakan sensasi berpetualang ke rawa Singkil. Di atas perahu yang melaju Safriadi, begitu antusias menceritakan pengalamannya menikmati aneka flora dan fauna yang ada di rawa Singkil.
“Perjalanan ke rawa Singkil sangat menantang, ini betul-betul paru-paru dunia yang ditumbuhi beribu jenis tanaman,” kata Safriadi. Di sana terdapat bunga vanda hookeriana, orangutan Sumatera, aneka jenis burung serta ikan. Menurut Safriadi rawa Singkil masih dalam kondisi terjaga, sehingga tak kalah dari hutan Amazon.
Tips Berpetualang ke Lae Treup
Lae Treup di kawasan Rawa Singkil, Kabupaten Aceh Singkil, merupakan rumah bagi flora dan fauna langka dunia. Seperti orangutan (pongo abelii), bunga vanda hookeriana, beruang, aneka jenis burung, tumbuhan aquatik serta flora dan fauna langka lainnya. Orangutan merupakan ikon Lae Treup Rawa Singkil. Selain keindahan alam di paru-paru dunia tersebut.
Semua petualang yang masuk ke Lae Treup mendambakan bertemu orangutan di alam liar. Akan tetapi perlu tips khusus agar aman dan nyaman berpetualang ke rawa Singkil melihat langsung orangutan di alam liar.
Berikut tips berpetualang ke Lae Treup:
- Pastikan berpetualang ke Lae Treup bersama pemandu pengalaman, agar tidak nyasar. Sebab di dalam terdapat banyak anak sungai yang bentuknya mirip.
- Bersama pemandu pengalaman petualang dapat menuju lokasi favorit. Umpamanya tempat hamparan bunga vanda hookeriana, menikmati lele di pondok terapung pencari lele, melihat tumbuhan terapung dan bertemu orangutan.
- Pilih perahu berukuran kecil untuk muatan tiga orang. Agar bisa masuk ke bagian dalam Lae Treup yang masih perawan.
- Perahu kecil lebih lincah bermanuver melewati alur air yang disesaki pohon bakung.
- Perahu yang ditumpangi wajib dilengkapi dayung, membawa bahan bakar cadangan, kipas perahu cadangan, busi cadangan dan kunci perbaikan mesin perahu. Sebab mesin perahu biasanya bekerja sangat keras akibat kipas perahu terlilit akar bakung.
- Bawa golok, senjata tajam ini sangat dibutuhkan untuk membersihkan sampah yang melilit kipas perahu.
- Bawa perbekalan cukup, obat-obatan, anti nyamuk dan pakaian panjang sangat disarankan dibawa, terutama ketika hendak menginap.
- Jaga suara ketika memasuki kawasan orangutan. Tujuannya agar orangutan tidak pergi mendengar kegaduhan manusia.
- Kosongkan memori telpon cerdas dan membawa batrai cadangan agar bisa mengabadikan semua momen alam liar Lae Treup.
- Sebelum berangkat tanya dulu biaya sewa perahu dan jasa pemandu, bisanya berkisar Rp 500 ribu.
- Mulailah petualang menuju Lae Treup dari Desa Rantau Gedang atau Teluk Rumbia, Kecamatan Singkil pada pagi hari. Agar lebih dekat masuk ke Lae Treup serta menghirup udara segar.



















