Misteri Sirkuit dan Excavator di Ciremai: Klarifikasi Puspita Cipta dan Misi ‘Arboretum’ Rokhmat Ardiyan

Keindahan Sunrise di Puncak Gunung Ciremai yang Mesti Kamu Nikmati 1024x512 1

Kembali Menjelaskan Fakta di Lereng Gunung Ciremai

Lereng Gunung Ciremai kembali menjadi perhatian masyarakat setelah adanya aktivitas penggunaan alat berat dan munculnya pola yang menyerupai sirkuit di Google Maps di kawasan wisata Cisantana, Kecamatan Cigugur, Kabupaten Kuningan, Jawa Barat. Hal ini memicu spekulasi liar yang mengundang banyak perhatian.

Sebelumnya, isu tentang dugaan pembabatan hutan sempat membuat heboh. Namun, akhirnya manajemen PT Puspita Cipta Group memberikan klarifikasi untuk menjelaskan fakta sebenarnya.

Pemilik lahan tersebut adalah H. Rokhmat Ardiyan, M.M., anggota DPR RI sekaligus Big Boss dari Puspita Cipta Group. Ia juga dikenal sebagai sosok yang peduli terhadap lingkungan dan memiliki kegemaran dalam menanam pohon.

Bukan Kerusakan, Tapi Perang Melawan Gulma

Isu-isu yang muncul di sekitar kawasan usaha milik legislator tersebut segera ditepis oleh manajemen melalui klarifikasi bersama awak media, Senin 8 Desember 2025 sore, di Kajene Forest.

Manager Agro PT Puspita Cipta Group, Herry Ruhiyat Taufik, ST., menyatakan bahwa lahan tersebut adalah milik pribadi yang dibeli sah dari warga sejak lama. Ia menegaskan bahwa lahan ini tidak terkait dengan pengembangan Arunika meski sama-sama berada dalam kepemilikan H. Rokhmat Ardiyan.

“Lahan ini awalnya ladang tidak produktif yang sulit air dan terbengkalai selama bertahun-tahun,” ujar Herry. Kondisi tanah yang gersang membuat gulma liar, terutama jenis Kaliandra, tumbuh masif dan mematikan tanaman produktif yang coba ditanam.

Tim agro sebenarnya sudah mencoba menanam alpukat hingga nangka sejak 2015, namun bibit-bibit tersebut kalah bersaing dengan Kaliandra.

Arboretum: Laboratorium Alam Kuningan

Klarifikasi mengenai penggunaan alat berat disampaikan oleh Korlap Agro PT Puspita Cipta Group, Nuky Nurcholis, SP. Ia memohon maaf atas kegaduhan dan kesalahpahaman yang timbul.

Nuky menjelaskan bahwa alat berat digunakan semata-mata untuk mengikis akar Kaliandra yang sangat keras dan cepat tumbuh kembali. “Kami memiliki gagasan membangun ‘Arboretum’, yang berfungsi sebagai laboratorium alam sekaligus agrowisata edukatif,” ungkap Nuky.

Inspirasi ini muncul setelah melihat keberhasilan Kebun Raya Kuningan (KRK) yang mampu menjaga ekosistem sekaligus menarik wisatawan. “Medan yang terjal dan sulitnya akses air menjadi alasan mengapa excavator atau beko dibutuhkan untuk percepatan pembabatan gulma dan kaliandra tersebut,” katanya.

Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan

Manajemen memastikan bahwa proyek ini bukan bagian dari pengembangan Arunika, meski keduanya berada di bawah payung kepemilikan yang sama. Manager RnD, Muhamad Mukhlish Abdurrahiim, menjelaskan bahwa pembangunan jalan di lokasi dilakukan secara bertahap sejak tahun 2023.

Terkait izin AMDAL, pihak perusahaan berkomitmen akan menempuh seluruh prosedur hukum sesuai rujukan Detail Engineering Design (DED) dari konsultan. “Fokus kami adalah mengembalikan vegetasi asli Gunung Ciremai dan menciptakan ekosistem bagi satwadi sana,” tambah Mukhlish.

Setelah sidak dilakukan oleh Bupati Kuningan, Dr. H. Dian Rachmat Yanuar, operasional beko dihentikan sementara untuk evaluasi teknis.

Rokhmat Ardian Hobi Menanam Pohon

Head Legal Office PT Puspita Cipta Group, Ady Waggos, S.H., M.H., C.L.A., bersama Steering Committee, Heni Arifin, menegaskan bahwa proyek ini adalah wujud Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) perusahaan. “Menanam pohon bukanlah bisnis bagi Rokhmat Ardiyan dan putranya, Kak Adam, melainkan sebuah passion hidup,” ungkap Heni.

“Sudah lebih dari 20.000 pohon yang ditanam beliau, bahkan banyak yang kami hibahkan ke pihak lain untuk reboisasi atau penghijauan,” imbuh dia. Awalnya, lahan tersebut hanya ditanami pinus dan jati karena belum ada rencana matang selain keinginan agar lahan kosong tidak mubazir.

Namun kini, misi besar beralih ke penanaman pohon endemik yang mampu menyerap dan menyimpan cadangan air tanah secara signifikan.

Manual atau Mekanik?

Pasca penarikan excavator, manajemen berencana melanjutkan pembersihan gulma secara manual meski memakan waktu lebih lama. “Jika cepat keluar izin, ya pakai beko. Karena, kaliandra itu cepat banget tumbuh laginya kalau dibiarkan lama,” tukas dia.

Langkah ini diambil demi menjaga kondusivitas sosial di tengah masyarakat Kuningan yang sangat peduli pada kelestarian Gunung Ciremai. “Jika sudah terlaksana, Insya Allah jalan yang disebut-sebut sirkuit pun akan ditanami kembali. Puspita Cipta Group memohon doa dan dukungan agar visi besar membangun museum alam hidup ini bisa berjalan sesuai rencana,” ucap Ady.

“Ini adalah janji Pak Haji Rokhmat Ardiyan untuk mewariskan alam yang lebih baik bagi anak cucu di Kuningan melalui reboisasi yang terukur,” pungkasnya.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *