Penipuan Berkedok Bea Cukai Menggemparkan Pekanbaru
Warga Pekanbaru kembali dibuat resah oleh tindakan penipuan yang mengatasnamakan Bea Cukai. Modus yang digunakan sangat rapi, bahkan dilengkapi dengan ID card palsu dan pasal hukum yang dianggap menakut-nakuti korban. Hal ini membuat sejumlah warga khawatir dan meminta sosialisasi lebih lanjut agar masyarakat bisa waspada terhadap modus baru ini.
Pengalaman Marwin: Teror dari Nomor Tak Dikenal
Salah satu korban yang mengalami kejadian ini adalah Marwin, seorang pekerja di sektor jasa keuangan Pekanbaru. Ia menerima panggilan dari nomor tak dikenal yang langsung memperkenalkan diri sebagai pejabat dari Kantor Bea Cukai Riau. Tanpa banyak pengantar, pria itu menyampaikan bahwa Marwin telah membeli barang ilegal dari Kota Batam dan melanggar aturan kepabeanan.
Deretan pasal kemudian dibacakan, yang membuat Marwin merasa tidak nyaman. Meskipun ia tidak memahami sebagian besar isi pasal tersebut, nada tegas dan struktur bahasa hukum yang terdengar resmi membuatnya tak berkutik. Ia merasa seperti dalam situasi yang sangat menegangkan.
“Dia tak berhenti di situ. Dibilangnya barang yang saya pesan sudah disita dan saya wajib membayar ‘denda’ Rp20 juta. Jika tidak, polisi akan datang ke rumah membawa saya ke tahanan,” kata Marwin.
Selain itu, penelepon juga menyebutkan detail identitas Marwin, termasuk alamat rumah. Informasi itu tepat, dan membuat tubuhnya merinding. Dari mana mereka mendapatkan semua data tersebut?
Kecurigaan Awal dan Bantuan dari Bea Cukai
Dalam kepanikan, Marwin ingat bahwa dua minggu sebelumnya, istrinya membeli sepasang sepatu sport untuknya dari sebuah toko di Instagram. Sepatu itu untuk jogging yang belakangan rutin ia tekuni. Istrinya bercerita bahwa harga yang ditawarkan sangat mirip harga pasar. Tanpa curiga, ia menghubungi penjual, mentransfer uang, dan menunggu paket datang. Semuanya tampak wajar, sampai telepon teror itu datang.
Marwin segera menghubungi istrinya. Nada suaranya gemetar. Istrinya langsung panik. Mereka mulai curiga, tetapi ancaman dari penelepon itu terus terngiang. Ketakutan mereka semakin menjadi ketika pelaku kembali menghubungi, kali ini mengirimkan foto ID card seorang pejabat tinggi Bea Cukai Riau. Seolah untuk memperkuat bahwa ia benar pejabat resmi.
Tak berhenti di situ, pelaku juga mengirimkan potongan pasal Undang-Undang Kepabeanan. Redaksinya rapi, lengkap, dan tampak sangat meyakinkan. Akhirnya, istrinya berinisiatif untuk mencari kebenaran langsung ke kantor Bea Cukai Pekanbaru.
Di tempat itu, seorang petugas mendengarkan cerita mereka dengan tenang. Setelah semuanya dijelaskan, jawaban petugas membuat lutut Marwin nyaris lemas. “Itu 1000 persen penipuan, Pak. Modus baru. Sudah banyak korbannya di Pekanbaru,” ucap petugas itu.
Modus Penipuan yang Sangat Rapi
Petugas membeberkan pola penipuan tersebut. Pelaku membuat akun Instagram yang menjual barang branded murah. Setelah pembeli melakukan transaksi dan memberikan data diri, semua informasi itu disimpan. Lalu digunakan untuk menakut-nakuti dengan mengatasnamakan Bea Cukai.
Mendengar hal itu, Marwin langsung memblokir nomor pelaku dan menghapus pesan ancaman. Untuk pertama kalinya dalam dua hari terakhir, ia bisa menarik napas dengan lega. Namun pengalaman itu meninggalkan bekas. Ia sadar, siapa pun bisa menjadi korban. Semua dimulai dari barang murah yang terlihat meyakinkan, lalu berubah menjadi teror yang seolah tidak punya jalan keluar.
Tanggapan Warga dan Harapan untuk Sosialisasi
Beberapa warga yang ditemui Tribun di Pekanbaru mengaku khawatir dengan maraknya modus penipuan dengan mengatasnamakan beacukai. Lisna, seorang guru SMA, mengatakan bahwa rapinya “permainan” penipu akan banyak warga yang berada dalam ketakutan dan akhirnya menyerahkan uang.
“Ini harus disosialisasikan, dan disampaikan kepada masyarakat, bahwa ini merupakan modus baru yang harus diwaspadai. Kalau tidak, akan banyak korban yang akhirnya menyerah,” ujarnya.
Sementara itu, Rian, mahasiswa Universitas Riau, menilai modus seperti ini semakin marak. Ia berharap masyarakat lebih hati-hati.
“Sekarang apa-apa bisa dicatut. Identitas kita mudah sekali bocor kalau sembarangan belanja online,” ujarnya.
Ia berharap tak ada lagi keluarga lain yang harus merasakan ketakutan serupa. “Apalagi kalau akhirnya mengirimkan uang karena ketakutan dan tak mau berurusan dengan hukum,” tuturnya.



















