Nurdin Razak pertama kali mengunjungi Taman Nasional Baluran pada tahun 2003 dan sejak saat itu langsung jatuh cinta. Selain sering memberikan edukasi, dia juga menjadi pemandu gratis bagi siapa saja yang ingin mengenal lebih dalam tentang Baluran.

Mengendap-endap di rerimbunan pohon, Nurdin Razak (ketika artikel ini ditayangkan di Majalah, usianya 42 tahun) mengarahkan moncong kameranya ke seekor lutung putih yang bergelantungan di dahan pohon. Tanpa membuang waktu, momen menarik itu langsung diabadikannya.
Jepret… jepret… jepret
.
“Asyik … ini adalah jenis lutung langka yang ada kelainan perbedaan gen atau albino,” kata Nurdin pada suatu siang di TN Baluran.
Nurdin boleh dibilang dedengkot TN Baluran. Dia tahu persis kebiasaan burung-burung indah, rusa, dan banteng berkoloni. Demikian juga dengan tempat dan waktu biasanya macan tutul menampakkan diri di taman nasional seluas 25 ribu hektare tersebut.
“Saya bukan orang TN Baluran tapi sejak tahun 2003 saya sudah blusukan ke berbagai sudut hutan ini. Jadi saya lumayan paham kehidupan fauna sampai sosial masyarakat sekitar sini,” kata penggiat ekowisata sekaligus fotografer wild life (kehidupan liar) di Baluran, Situbondo, Jawa Timur, akhir Oktober 2014.

Kesurupan roh 400 tahun
Nurdin mulai berkenalan dengan hutan saat menjadi dosen pariwisata di Universitas Airlangga Surabaya pada 1996. Ketika memegang mata kuliah ekowisata, dia mengajak 75 mahasiswa ke TN Alas Purwo di Kabupaten Banyuwangi.
“Itu pengalaman pertama saya masuk ke hutan. Bagi saya sederhana saja. Lokasi wisata itu tidak hanya Bali dengan hotel-hotel mewahnya. Hutan juga bisa dieksplorasi sebagai tujuan wisata yang jauh lebih menarik,” kata Nurdin.
Para mahasiswa kemudian diajak Nurdin menjelajah hutan. Tak sekadar menjelajah, saat berkumpul di penginapan sederhana milik Perum Perhutani, Nurdin juga mengajak mahasiswanya berdiskusi dan membuat laporan.
Aktivitas di tengah hutan tersebut dilakukan seminggu penuh. “Kegiatan seperti itu saya lakukan setiap semester dan itu sangat menyenangkan. Apalagi Alas Purwo kan hutan tropis, pepohonannya lebat sekali,” cerita dia.
Pada kunjungan keempat ada sebuah peristiwa mistis yang membuatnya terpaksa memindahkan lokasi penjelajahan dari Alas Purwo. “Salah seorang mahasiswa saya tiba-tiba kesurupan dan ngoceh tak keruan. Roh halus yang masuk ke tubuhnya mengaku bernama Mustofa dan berusia 400 tahun,” ujar Nurdin.
Maklum, Alas Purwo memang bukan tempat yang asing bagi penggemar mistik. Di sana, di beberapa tempat, masih sering ditemui orang bertapa.
Kapok karena mahasiswanya kesurupan, pada semester berikutnya Nurdin bersama 75 mahasiswa pindah lokasi ke TN Meru Betiri yang letaknya bersebelahan dengan Alas Purwo. Alam Meru Betiri tak kalah indah dibandingkan dengan Alas Purwo. Tempat ini juga menjadi tujuan pelancong karena terdapat lokasi tempat penyu bertelur.
“Di Meru Betiri saya cuma bertahan setahun, sebab terlalu jauh untuk dijangkau,” papar Nurdin.
Pada 2003 dia beralih ke TN Nasional Baluran. “Salah satu pertimbangan saya, Baluran berada di pinggir jalan raya Situbondo – Banyuwangi, jadi mahasiswa akan jauh lebih enak menjangkaunya,” jelasnya.
Pada tahun-tahun awal di Baluran, bersama para mahasiswa Nurdin hanya datang tiap semester. Mereka menginap di homestay murah milik warga di Desa Wonorejo, sebelah TN Baluran.
Lama-kelamaan kecintaan Nurdin pada Baluran makin mendalam. Setiap bulan, bahkan kurang, dia datang sendiri ke taman nasional yang berjarak 250 km arah timur Surabaya tersebut dengan naik sepeda motor. Di sana Nurdin tidak lagi menginap 1-2 hari, tapi sampai 10 hari lamanya. Tempat tidurnya pun seadanya, misal di pos penjaga polisi hutan.
“Kadang istri saya sampai marah karena saya tidak kunjung pulang,” ucap Nurdin sambil tertawa.
Nurdin mengaku sangat mencintai TN Baluran. Di mata Nurdin, hutan lindung ini memiliki keanekaragaman fauna yang sangat lengkap. Bukan hanya itu, taman nasional yang ditemukan oleh seorang pemburu Belanda pada 1929 (disahkan pemerintah tahun 1955) tersebut juga merupakan satu-satunya taman nasional di Asia Tenggara yang memiliki padang savana alami. “Nama Baluran sendiri diambil dari nama kapal dagang Belanda jurusan Batavia – Nederland bernama Baloeran,” jelas Nurdin, yang ketika itu tengan berusaha mencari data mengapa nama kapal Belanda bisa dijadikan nama taman nasional.
Banyak hal dilakukan Nurdin ketika di Baluran. Di antaranya, karena dirinya memiliki talenta fotografi, dia memotret wildlife aneka fauna beserta lansekapnya. Dia juga mengajari para polisi hutan agar memahami ekowisata.
Kepada masyarakat Desa Wonorejo yang berdekatan dengan taman nasional, dia mengajarkan pentingnya arti taman nasional bagi keseimbangan alam. Kadang pula dia menjadi pemandu wisata gratis bagi para turis.
“Dulu kalau ada wisatawan asing datang kemari, dengan suka rela saya mengantar menunjukkan tempat hewan-hewan tertentu berada. Semua itu saya gratiskan, saya tidak mau dibayar,” cerita Nurdin.
Bertemu macan tutul
Nurdin punya pengalaman yang sangat berkesan. Suatu ketika, ada satu keluarga dari Polandia datang. Nurdin yang kemampuan bahasa Inggrisnya sangat bagus menawarkan diri untuk memandu ke titik-titik tempat habitat hewan tertentu berada.
Tak sekadar memandu, Nurdin juga meminjamkan kamera kepada anak-anak keluarga tersebut, supaya mereka bisa memotret seekor rusa yang tengah birahi. Rusa tersebut menggaruk-garukkan tanduknya ke rumput kering. Momen tersebut diabadikan dengan kamera dan menghasilkan gambar yang sangat indah.
Kekaguman sang turis makin menjadi ketika tahu Nurdin menolak diberi honor. Setibanya lagi dia di negaranya, turis itu langsung mengirimi Nurdin surat elektronik. Dia bercerita, selama berwisata ke berbagai taman nasional di penjuru dunia, baru di TN Baluran bisa mendapatkan pengalaman yang mengesankan dari seorang pemandu wisata.
“Saking gembiranya, saya ditawari berkunjung ke negaranya dengan biaya akomodasi ditanggung oleh mereka,” cerita Nurdin.
Pengalaman mengesankan kedua yang tak pernah dia lupakan seumur hidup terjadi pada Februari 2012 atau sembilan tahun sejak rutin blusukan di Baluran. Waktu itu Nurdin berhasil memotret macan tutul.
Ternyata, foto hasil karyanya tersebut merupakan dokumentasi terakhir tentang macan tutul selama 30 tahun terakhir yang dimiliki TN Baluran. Sebab, para polisi hutan atau pengunjung yang tanpa sengaja bertemu si binatang buas tersebut, belum pernah ada yang berhasil mendokumentasikannya lewat foto.
Nurdin mendapatkan foto eksklusif tersebut berawal dari informasi seorang polisi hutan yang melihat seekor rusa berlari dengan ekor berdarah dan luka bekas tercabik-cabik. Naluri Nurdin sebagai fotografer alam liar langsung muncul. Dia kemudian mengeluarkan kamera dari tas dan menuju ke semak-semak tidak jauh dari tempat rusa berlari.
Karena sudah menjelang petang, seorang polisi hutan membantunya menyorotkan lampu. Tak disangka, begitu lampu menyorot, sekitar 7 m di depan Nurdin tampak berdiri seekor macan tutul. Si macan juga terkejut. Tak mau kehilangan momen, Nurdin langsung mengarahkan lensa dan jepret … jepret.
Selang beberapa detik kemudian, macan tutul tersebut langsung menghilang ke dalam rerimbunan hutan. “Begitu macan menghilang, jantung saya berdebar kencang karena baru menyadari mendapat objek langka,” ceritanya.
Wajar kalau Nurdin gembira bukan kepalang. Sebab, kata Nurdin, jenis macan tutul yang ada di TN Baluran itu kini jumlahnya tinggal 200 ekor saja di seluruh dunia.
Keberuntungan Nurdin ternyata belum berakhir. Setahun kemudian dia bertemu kembali dengan macan tutul lain di tempat yang berbeda. Pertemuan tersebut bahkan sempat diabadikannya dalam komposisi yang sangat bagus.
“Foto macan tutul tersebut kemudian saya jadikan sampul kumpulan foto-foto wildlife terbaik saya yang saya beri judul Amazing Baluran,” papar Nurdin – ketika itu Nurdin punya rencana yaitu menjual buku foto eksklusif tersebut kepada siapa pun yang berminat, sebagai modal riset sekaligus memotret fauna alam liar di taman nasional yang berbeda.
Pelatihan gratis
Untuk pengembangan ekowisata, Nurdin berusaha melakukan edukasi ke berbagai pihak. Dia memberi pelatihan secara cuma-cuma kepada petugas TN Baluran, mulai dari cara memandu wisata sampai hal-hal lainnya.
Sebagai contoh, “Di dunia ekowisata, memilih rute yang akan dilalui saja tidak boleh sembarangan. Kalau rumput sudah rebah karena banyak terinjak kaki, harus cari rute lain. Hakikat ekowisata itu kita harus tetap menjaga kelestarian alam,” papar Nurdin.
Sementara untuk warga Desa Wonorejo, dari para pemilik homestay hingga tukang-tukang ojek, Nurdin berbagi ilmu bagaimana memberikan pelayanan yang memuaskan kepada para pelancong. Jika para turis terpuaskan, tentu akan memberikan efek positif secara ekonomi kepada warga setempat. Apalagi, Situbondo – dan Banyuwangi — memiliki potensi ekowisata yang luar biasa.
Orang lain saja diajari Nurdin tentang wisata berwawasan lingkungan, apalagi anak sendiri. Sesekali keluarganya yang menetap di Surabaya diajaknya ke Baluran untuk berpetualang masuk ke hutan. Bahkan anak sulungnya, Fairuza Hanun Razak, sudah menuruni bakatnya. Sekitar 2013 yang lalu, Hanun yang memiliki kemampuan bahasa Inggris bagus, memandu turis dari Polandia masuk ke Baluran.
“Anak saya juga tahu rute-rute di mana fauna berkoloni,” ceritanya, tangga.
Untuk melengkapi obsesinya mengembangkan ekowisata di Baluran, Nurdin kemudian membeli sebuah rumah bersuasana asri di Desa Wonorejo yang bersebelahan dengan taman nasional. Rumah yang berdiri di atas tanah seluas 900 m2 itu dia beri nama Baloeran Ecolodge.
Ecolodge sendiri, kata Nurdin, bermakna ramah lingkungan. Oleh sebab itu, di rumah yang juga disewakan Nurdin tersebut tidak ada televisi, AC, maupun radio. “Arti ecolodge adalah rumah yang ramah lingkungan. Karena itu, di rumah ini tidak ada televisi, tidak ada AC, maupun radio.”



















