Pasangan Singa, Sirupen, dan Jejak Sejarah di Surabaya

AA1RWWEM

Menjelajah Kota Lama Surabaya: Jejak Sejarah di Tengah Kehidupan Modern

Sekitar pukul 15.30 sore, bus yang membawa kami dari Pacet tiba di kantor Disway di Jalan Ketabang Kali, Surabaya. Dari sana, tinggal memesan taksi daring untuk menuju tempat kami menginap di kawasan Kota Lama Surabaya. Sebagian peserta lain memilih langsung ke Stasiun Gubeng atau Pasar Turi, ada pula yang turun di Terminal Bungurasih dan Joyoboyo. Namun kami memang ingin sejenak menjelajah Surabaya sebelum kembali ke Bekasi esok hari—terutama kawasan Kota Lama dan jejak sejarah yang masih tersisa.

Menginap semalam di Hotel Horison Arcadia mungkin terdengar biasa saja. Tetapi begitu masuk ke lobi, rasa sejarahnya sudah terasa. Hotel ini berada di kawasan bersejarah dekat Jembatan Merah, dan ada detail menarik pada lantai dua yang mengelilingi lobinya: foto-foto lama Surabaya terpajang, menampilkan trem kolonial, bangunan pasar dan pelabuhan, serta gedung-gedung Hindia Belanda. Bukan sekadar dekorasi; seperti sebuah pernyataan bahwa hotel ini mencoba merangkul “memori kota”.

Langit-langit lobi berbentuk kubah dengan cahaya hangat, lantai marmer bermotif lingkaran, dan tangga berkarpet merah di sisi kanan. Nuansa klasik itu seperti menyambut tamu dengan nostalgia.

Kami pun melangkah keluar. Trotoar di Jalan Rajawali terasa nyaman dengan kursi untuk sekadar duduk santai. Dengan berjalan tanpa tujuan jelas, rasanya seperti memasuki lorong waktu: dinding-dinding bata kolonial yang dibangun pedagang Eropa dan Tiongkok, angin membawa aroma Kali Mas, dan gedung-gedung tua berdiri seperti penjaga museum ruang terbuka—tanpa tiket, tanpa pemandu, dengan cahaya berasal dari warung-warung pinggir sungai.

Malam itu kawasan Taman Sejarah di seberang hotel cukup ramai. Ada anak muda berfoto, ada pula yang memakai toga seolah baru saja diwisuda. Keheningan dan keramaian bertemu—sibuk, tetapi pelan.

Bangunan pertama yang menyambut kami adalah gedung megah di seberang taman: Gedung Internatio, di sudut Jalan Rajawali dan Jalan Jayengrono. Dari plakat kecil di sana, saya juga mengetahui nama lamanya: Heerenstraat untuk Jalan Rajawali dan Willemsplein untuk Taman Sejarah.

Tidak jauh dari sana, kami berbelok ke arah Jembatan Merah. Di seberang terlihat gerai kuliner seperti Bebek Gemoy Madura. Tetapi perhatian kami tertuju pada gedung besar dengan dua singa bersayap di pintu gerbang—Gedung Singa.

Kami membaca plakat di dindingnya. Gedung ini didesain arsitek penting Belanda, H.P. Berlage. Dibangun pada 1901 sebagai kantor asuransi Algemeene Maatschappij van Levensverzekering en Lijfrente, bangunan ini seperti simbol kepercayaan diri ekonomi kolonial. Dua patung singa bersayap seakan menyimpan rahasia. Mereka tidak mengaum, tetapi sudah berbicara cukup banyak hanya dengan berdiri di sana selama lebih dari seabad. Kami berjanji akan kembali pagi hari untuk melihatnya dalam cahaya yang lebih jujur.

Kami melanjutkan perjalanan menyusuri gang kecil bernama Jalan Mliwis. Lampu kuning temaram, suasana tenang, dan tiba-tiba sebuah bangunan krem pucat menarik perhatian: Pabrik Limun—Siropen Telasih.

Tulisan tua di fasadnya masih terlihat meski memudar:
“PABRIK LIMUN & LINDEN J.C. van DRONGELEN HELLFACH.”

Didirikan oleh pengusaha Belanda J.C. van Drongelen pada awal abad ke-20, ketika minuman limun menjadi simbol modernitas. Minum limun saat itu bukan sekadar menikmati minuman manis, tetapi mengikuti gaya hidup baru—ketika listrik saja masih kemewahan, limun dianggap minuman pesta dan kemajuan.

Kini pabrik itu tidak lagi menghasilkan limun bersoda, melainkan sirup legendaris Siropen Telasih. Melihatnya di malam hari seperti melihat sebuah usaha yang bertahan dari gelombang waktu. Jika dunia berubah, rasanya ingin tetap sama sejak 1923.

Setelah puas berjalan, kami menemukan warung kecil. Menu sederhana: nasi pecel, ayam goreng, tempe tahu, dan es teh. Hanya Rp14 ribu. Di sebelah kami duduk dua pemuda membawa kamera, menawarkan jasa foto kepada pejalan kaki. Makan malam sederhana ini adalah ironi kecil: dikelilingi bangunan mewah era kolonial, tapi lauk kami hanyalah sambal pecel yang lezat.

Kembali ke hotel, ternyata di depan ada juga warung kecil menjual mie goreng, nasi goreng, dan gorengan murah. Mungkin lain waktu kami singgah ke sana.

Esok paginya, kami kembali keluar. Tujuan pertama: Jembatan Merah.

Jika malam menjadikannya muram, pagi menghidupkannya kembali. Tulisan “ROODE BRUG” dalam warna merah melekat seperti pengingat masa lalu. Di sinilah Brigadir Jenderal A.W.S. Mallaby tewas, peristiwa yang memicu Pertempuran 10 November 1945 — kini diperingati sebagai Hari Pahlawan.

Kami lalu berjalan ke kawasan Kembang Jepun, dulu pusat perdagangan Asia–Eropa. Di sana ada gapura bergaya Tiongkok bertuliskan “Kya-Kya.” Dahulu kawasan kuliner malam; sekarang bergeser menjadi tujuan wisata sejarah. Konon, pada masa kolonial jalan ini bernama Handelstraat, yang berarti “Jalan Perdagangan.” Nama yang tepat, karena di sinilah jantung ekonomi Surabaya pernah berdetak kencang.

Di sudut jalan, kami berhenti di depan bangunan tua bercat putih kusam—gedung bekas kantor Jawa Pos. Di dindingnya terpasang plakat cagar budaya. Sebelum ditempati Jawa Pos, bangunan ini adalah kantor bank kolonial: De Unie Bank Voor Nederland en Kolonien. Bangunan yang dulu menjadi tempat keluar-masuk uang internasional, kini menjadi tempat keluar-masuk informasi. Kekuasaan finansial berganti menjadi kekuasaan narasi.

Aroma sarapan bercampur bau sungai. Pedagang mulai membuka lapak. Kota Lama Surabaya bukan sekadar bangunan untuk difoto; ia masih hidup, bernapas, menua, tapi tetap tegar dengan identitasnya.

Kami mengakhiri perjalanan pagi dengan kembali melihat Gedung Singa, Pabrik Limun, dan Taman Sejarah dalam cahaya terang. Kisah selanjutnya akan kami lanjutkan pada artikel berikutnya.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *