Pegawai PPPK RSUD RAT Tanjungpinang Meninggal, Keluarga Kritik Pelayanan Rumah Sakit

IMG 20200517 112354

Kematian Pegawai PPPK di RSUD RAT Tanjungpinang Memicu Kekhawatiran

Muhammad Yusuf Bin Ridwan, seorang pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Raja Ahmad Tabib (RAT) Tanjungpinang, Kepulauan Riau, meninggal dunia pada hari Sabtu, 6 Desember 2025. Kepergian almarhum menimbulkan duka yang mendalam bagi keluarganya, khususnya setelah mereka merasa tidak puas dengan pelayanan medis yang diberikan oleh rumah sakit tempat almarhum bekerja.

Salah satu anggota keluarga, Ade Kadafie, membagikan cerita menyedihkan melalui media sosial Facebook. Cuitannya viral dan menjadi sorotan publik. Ia menulis:

“Innalillahi wa inna ilai hirojiun. Sabtu 6 Desember 2025 telah berpulang keluarga kami Muhammad Yusuf (ASN PPPK RSUD RAT Tanjungpinang).”

Ade kemudian menjelaskan kronologi kejadian yang dialami almarhum. Awalnya, Yusuf mengalami sesak napas yang tidak biasa. Ia segera membawa korban ke IGD RSUD RAT. Namun, petugas atau dokter IGD hanya menggunakan stetoskop untuk memeriksa dan memberi informasi bahwa tidak ada penyakit serius yang dialami almarhum.

“Petugas meminta keluarga untuk pergi ke faskes sesuai BPJS terlebih dahulu, baru minta puskesmas atau klinik itu memberi rujukan ke RS untuk ditangani,” ujarnya.

Solusi tersebut membuat keluarga bingung dan merasa tidak puas. Mereka mulai mempertanyakan kompetensi dan hati nurani petugas medis yang menangani pasien dalam kondisi darurat.

“Apakah petugas itu tidak cukup kompeten dan berhati nurani untuk menangani pasien yang membutuhkan pertolongan serius? Atau petugas saat ini tidak memandang nyawa sebagai hal paling penting, dimana hari nuraninya?” tulis Ade.

Meskipun keluarga mengakui bahwa mereka tidak sepenuhnya memahami dunia kesehatan dan aturan penanganan pasien, mereka merasa bahwa prosedur yang diberikan tidak sesuai dengan harapan. Di sisi lain, mereka juga menyadari bahwa maut adalah takdir Allah. Namun, mereka berharap agar profesi tenaga kesehatan dapat menunjukkan profesionalisme yang tinggi.

Penjelasan dari Direktur RSUD RAT

Terpisah, Direktur RSUD RAT Tanjungpinang, dr. Bambang Utoyo, memberikan klarifikasi terkait kejadian ini. Ia menegaskan bahwa pihak rumah sakit tidak mempersulit atau menolak pasien bernama Muhammad Yusuf. Penegasan ini disampaikan setelah cuitan Ade viral di media sosial.

“Itu tidak benar, kami tidak mungkin menolak pasien. Apalagi dia juga merupakan staf kami,” ujar Bambang.

Bambang juga membenarkan bahwa almarhum Yusuf selama ini bertugas di bagian keuangan RSUD RAT Tanjungpinang. Ia menggambarkan almarhum sebagai orang yang baik. Bambang juga menyebutkan adanya tanda-tanda aneh sebelum kematian almarhum.

Pada Jumat (5/12/2025), almarhum sempat bercanda gurau dan meminta maaf kepada beberapa teman usai shalat Jumat. “Dia sempat salaman dengan saya dan bilang, kalau ada salah, saya minta maaf ya pak,” ucap Bambang menirukan perkataan almarhum.

Bambang menyampaikan bahwa pihaknya sedang melakukan investigasi terkait kejadian ini. “Saat ini saya belum bicara banyak, setelah hasil investigasi keluar, saya informasikan lagi,” katanya.

Keluarga Almarhum Tidak Bersedia Dikonfirmasi

Wartawan Tribun Batam.id sempat menemui istri almarhum, Kase, di kediamannya di Perumahan Bandara Asri KM 13 Tanjungpinang. Namun, Kase belum bersedia diwawancara terkait kematian suaminya.

“Maaf saya belum siap diwawancarai bang,” kata Kase, Senin (8/12/2025).

Wajah Kase tampak pucat, dan ia kembali menangis saat ditanya tentang apa yang dialami sang suami. Gerak geriknya kaku, dan ia hanya berdiri di ruang tamu selama kurang lebih dua menit sebelum masuk kembali ke dapur bersama seorang ibu.

Sosok Almarhum yang Tenang

Seorang keluarga lain menyebutkan bahwa almarhum Yusuf merupakan sosok pendiam. “Almarhum orangnya tidak banyak bicara dan pendiam. Dia punya seorang anak yang masih kecil,” kata pria paruh baya itu.

Tetangga almarhum, Niko, juga menyampaikan bahwa selama ini dirinya jarang berinteraksi langsung dengan almarhum karena jarang berada di rumah. Ia menyebut bahwa beberapa hari belakangan ini almarhum memang kurang sehat. “Saya dengar dia sudah batuk-batuk. Kadang batuk-batuk sampai pukul 01.00 WIB dini hari,” ujar Niko.

Niko mengaku tidak mengetahui almarhum sedang sakit sebelum kepergiannya. Terakhir, ia melihat almarhum mengantar anak ke sekolah. Kepergian Yusuf membuat Niko kaget karena tidak mengetahui kondisi kesehatannya.

Berdasarkan pantauan Tribun Batam.id, rumah almarhum tampak sepi. Hanya empat orang yang tinggal di sana, termasuk istri dan anak almarhum. Mereka duduk di ruang tamu, tidak ada aktivitas berlebihan di luar rumah.

Di depan rumah, terlihat satu tenda berwarna biru. Beberapa anak bermain di bawah tenda tersebut. Dua kursi diletakkan tepat di bawah tenda tersebut. Di jalan gang masuk ke rumah almarhum, lima papan bunga masih terpasang rapi. Salah satu papan bunga dikirim oleh Direktur RSUD Raja Ahmad Tabib Tanjungpinang dan staf.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *