Berita Populer di Kalimantan Timur: Kekerasan di Kantor Pos, Kebakaran yang Menewaskan Tiga Anak, dan Polemik Studi Tiru
Beberapa peristiwa penting di wilayah Provinsi Kalimantan Timur menjadi sorotan publik dalam 24 jam terakhir. Berikut tiga berita paling menonjol yang sedang ramai dibicarakan.
Pegawai Kantor Pos Sepinggan Balikpapan Luka Sobek, Pelaku Diduga Masuk Lewat Jalur Belakang
Seorang karyawan Kantor Pos Sepinggan menjadi korban tindak pidana kekerasan di wilayah RT 23, Kelurahan Sepinggan Raya, Balikpapan Selatan, Kota Balikpapan, Provinsi Kalimantan Timur. Peristiwa tersebut terjadi di Jalan Sepinggan Baru I, sekitar pukul 15.00 Wita, Sabtu (13/12/2025).
Ketua RT 23 Kelurahan Sepinggan Raya, Rusli, mengatakan bahwa korban merupakan karyawan Kantor Pos Sepinggan yang saat kejadian berada sendirian di dalam kantor. “Korban ini karyawan Kantor Pos Sepinggan. Kayaknya dia lagi closing, karena posisinya sendirian,” ujar Rusli di lokasi kejadian.
Menurut Rusli, warga baru mengetahui kejadian tersebut setelah korban berlari keluar kantor pos sambil meminta pertolongan, sebelum akhirnya terjatuh dan tergeletak di pinggir jalan sekitar 10 meter dari kantor pos. Saat itu, secara kebetulan ada pegawai puskesmas yang melintas di lokasi. Korban kemudian segera dibawa ke UGD untuk mengambil ambulans dan langsung dievakuasi ke Rumah Sakit Kanudjoso Djatiwibowo (RSKD) Balikpapan.
Rusli menyebutkan, korban mengalami luka cukup serius di bagian belakang tubuh. “Lukanya di bagian belakang, itu sudah luka di dalam. Sudah berdarah di meja dan lantai di dalam kantor pos, makanya dia keluar minta tolong,” ungkapnya.
Terkait isu penembakan yang sempat beredar, Rusli menegaskan belum ada kepastian dan sementara informasi tersebut tidak benar. Dari luka yang terlihat, korban mengalami sobekan, bukan luka tembak. “Dari beberapa saksi memang sempat bertanya ke korban apakah ditembak, tapi kita tidak bisa langsung asumsi. Dilihat dari lukanya itu sobek, jadi sementara isu penembakan tidak benar,” tegasnya.
Ia juga menyampaikan bahwa Kantor Pos Sepinggan memiliki kamera pengawas (CCTV), namun berdasarkan konfirmasi ke pihak kantor pos pusat, CCTV tersebut dalam kondisi tidak aktif. Meski demikian, CCTV milik warga sekitar diketahui merekam pergerakan korban saat berlari keluar dari lokasi kejadian.
Dugaan sementara mengarah pada tindak pidana pencurian dengan kekerasan terhadap korban secara perorangan, bukan perampokan kantor pos secara langsung. Dugaan pelaku masuk melalui bagian belakang bangunan. “Informasinya masuk lewat belakang. Polisi juga sudah olah TKP sampai ke kebun belakang,” ujarnya.
Sementara itu, bercak darah masih terlihat di lokasi korban terjatuh. Kantor Pos KCP Sepinggan telah dipasangi garis polisi oleh aparat kepolisian. Kasus ini kini dalam penanganan Polresta Balikpapan untuk mengungkap pelaku dan motif di balik kejadian tersebut.
Tiga Anak Tewas Terkunci dalam Rumah Saat Kebakaran di Anggana Kukar, Faisal: Mereka Berpelukan
Peristiwa kebakaran tragis di Anggana, Kutai Kartanegara, Kamis (11/12/2025) siang, menghanguskan sebuah rumah kontrakan di Gang Muli atau Sungai Purun RT 21 dan menewaskan tiga anak kecil. Kebakaran ini bukan hanya memicu kepanikan, tetapi juga meninggalkan luka mendalam bagi warga yang menyaksikan langsung upaya penyelamatan yang gagal karena ganasnya api.
Tiga anak kecil, Abdul Afif Alfrezi (6), Ramadani (4), dan Abizar (1), meregang nyawa setelah terjebak di dalam rumah kontrakan yang terbakar. Menurut keterangan saksi mata, Haji Faisal (54), kepergian tiga bocah malang tersebut terjadi akibat kondisi rumah yang terkunci dari luar saat api mulai berkobar.
Faisal menyebut, tidak ada suara teriakan dari dalam rumah, api yang cepat membesar dan panasnya kobaran membuat warga tidak berani mendekat dan menolong tiga bocah itu. Ia juga menyampaikan hambatan lain bukan pada akses jalan, melainkan pada kondisi rumah tua yang terbuat dari kayu. “Rumah yang ditempatin itu rumah tua sudah jabuk, jadi api itu cepat sekali melahapnya,” tambahnya.
Proses pemadaman memakan waktu kurang lebih dua jam hingga tuntas. Setelah api benar-benar padam dan kondisi rumah luluh lantak, barulah petugas mengevakuasi jasad ketiga korban. Ia mengaku tidak tega melihat langsung proses pengangkatan jenazah dari tiga bocah itu. “Posisi korban juga ditemukan di bagian dalam WC. Yang dua berpelukan, satunya terlentang,” ujarnya.
Ketiga korban, yang baru beberapa bulan mengontrak di lokasi tersebut, kini telah dievakuasi ke Puskesmas Sungai Meriam untuk proses visum sebelum diserahkan kepada keluarga.
Polemik Studi Tiru Desa Giripurwa, Kades Dilaporkan, Bupati PPU Minta Inspektorat Turun Tangan
Polemik studi tiru Desa Giripurwa ke Bali telan dana Rp500 juta, Kepala Desa dilaporkan, Bupati PPU pun minta Inspektorat turun tangan, Kamis (11/12/2025). Studi tiru adalah kegiatan belajar dengan cara mengamati langsung praktik terbaik dari institusi atau daerah lain, lalu menyesuaikannya untuk diterapkan di lingkungan sendiri.
Kegiatan studi tiru Pemerintah Desa Giripurwa, Kecamatan Penajam, Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU), Kalimantan Timur, ke Desa Penglipuran, Bali pada 23–26 Oktober 2025 memicu kontroversi. Pemicunya besarnya anggaran yang digunakan dan banyaknya peserta yang ikut dalam studi tiru itu.
Penggunaan Alokasi Dana Desa (ADD) lebih dari Rp 500 juta untuk memberangkatkan 48 orang diprotes warga karena dianggap tidak transparan dan melampaui aturan. Imbasnya, Kepala Desa Giripurwa, Habi Rudianto pun dilaporkan ke Inspektorat Daerah.
Inspektorat Daerah adalah lembaga pengawas internal pemerintah daerah yang bertugas memastikan penyelenggaraan pemerintahan berjalan transparan, akuntabel, dan sesuai aturan. Kelompok Masyarakat Giripurwa Peduli (KMGP), yang diwakili Bodro Lukito, menilai kegiatan yang sudah berlangsung itu sarat penyimpangan. “Perbup hanya mengatur dua orang, yaitu undangan dan pendamping. Ini 48 orang, dan informasi yang kami dapat, mereka cuma lihat-lihat saja. Uang ADD kan mestinya jelas penggunaannya, tidak boleh sembarangan seperti ini,” tegas Bodro, Kamis (11/12/2025).
Kelompok warga telah menyusun tujuh tuntutan, termasuk melaporkan pemerintah desa ke Inspektorat Kabupaten. “Langkah kami ke Inspektorat, minta ditindak, Pak Habi (Kepala Desa) harus mundur, kembalikan uang, dan dihukum,” ucap Bodro.
Ketua BPD Akui Tak Tahu Menahu
Ketua Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Giripurwa, Budi Supoyo, menjelaskan bahwa pengawasan BPD terhadap kegiatan desa dilakukan sesuai aturan yang berlaku dan tidak boleh masuk terlalu jauh ke ranah teknis pemerintahan desa. Ia mengaku tahu soal program studi tiru ke Bali yang dilakukan pemerintah desa, namun tidak mengetahui detail jumlah peserta, waktu keberangkatan, maupun teknis penggunaan anggarannya karena tidak pernah diberi informasi lengkap. “Yang saya tahu, ada program itu. Tapi awal keberangkatan dan jumlah pesertanya saya tidak tahu,” ujarnya.
Ia juga membenarkan bahwa tiga anggota BPD ikut berangkat dalam kegiatan tersebut. Budi menegaskan bahwa selama dua tahun terakhir dirinya tidak pernah mengikuti kegiatan luar daerah, karena menurutnya belajar dapat dilakukan dari mana saja tanpa harus keluar desa.
Terkait peran BPD dalam proses perencanaan anggaran desa, ia menyebut bahwa BPD hanya mengetahui adanya pos-pos kegiatan, namun tidak memegang rincian atau daftar lengkap peserta. “Kalau diberi tahu, pasti kami bisa memberi pandangan,” kata dia.
Budi mengatakan, ia sebenarnya sering mengingatkan pemerintah desa agar setiap rencana kegiatan disampaikan secara terbuka. “Saya sering mengingatkan, kalau ada kegiatan-kegiatan, sebaiknya disampaikan,” ujarnya.
Kepala Desa Bela Diri
Kepala Desa Giripurwa, Habi Rudianto, menegaskan bahwa pelaksanaan studi tiru ke Desa Penglipuran, Bali, telah dilakukan secara transparan dan sesuai perencanaan. Ia membantah tudingan bahwa kegiatan tersebut menggunakan anggaran pembangunan atau dilakukan tanpa keterbukaan.
Menurut Habi, program studi tiru ini sudah direncanakan sejak lama. Bahkan, rencana keberangkatan telah disusun sejak tahun sebelumnya namun tertunda karena beberapa hal. “Tidak mungkin anggaran pembangunan digunakan. Ini sudah direncanakan sejak awal, bahkan sudah beberapa kali tertunda. Peserta sebanyak 48 orang juga sudah terkumpul sejak lama,” ujarnya.
Ia menjelaskan, kegiatan studi tiru berlangsung pada 23–26 Oktober 2025 dan dananya berasal dari Alokasi Dana Desa (ADD). Total ADD Desa Giripurwa mencapai Rp 3,8 miliar, dan sebagian dialokasikan untuk kegiatan tersebut. Rencana ini telah melalui proses perencanaan selama enam bulan dan sempat masuk ke SILPA sebelum kembali dianggarkan tahun ini.
Kegiatan studi tiru ini sekaligus menjadi bagian dari persiapan Desa Giripurwa menghadapi lomba kebersihan tingkat provinsi. Karena itu, seluruh elemen masyarakat ikut dilibatkan. “Kami ajak warga, PKK, kelompok karawitan, semua. Tujuannya supaya masyarakat semakin sadar menjaga kebersihan,” jelasnya.
Empat RT disebut tidak ikut serta hanya karena ada kesibukan. Terkait polemik pemanfaatan mobil desa, Habi mengakui awalnya kendaraan tersebut mangkrak karena kerusakan mesin dan ban. Namun, kemudian dimanfaatkan untuk menambah pendapatan desa sekitar Rp 1 juta per bulan.
“BUMDes kita tahun lalu kosong, minus. Tahun kemarin bisa masuk Rp 49 juta ke kas BUMDes, dan tahun ini ada lagi pemasukan,” katanya.
Bupati PPU Minta Inspektorat Turun Tangan
Dikonfirmasi, Bupati Penajam Paser Utara Mudyat Noor mengaku sudah mendapat informasi soal gaduh studi tiru Pemdes Giripurwa tersebut. Bahkan, dia sudah meminta Inspektorat turun langsung. “Untuk tindak lanjutnya saya sudah minta Inspektorat Daerah untuk melakukan pendalaman terkait masalah ini,” kata dia.



















