Seminar “Tidak Masalah Jika Tidak Baik-Baik Saja” Psikolog Ajak Peduli Kesehatan Mental

AA1SiUCn

Kesadaran Kesehatan Mental yang Semakin Penting

AA1SiUCp

Dalam era modern yang penuh tantangan, kesadaran masyarakat tentang kesehatan mental semakin meningkat. Namun, masih banyak hambatan yang dihadapi, seperti stigma negatif dan kurangnya literasi mengenai penanganan kesehatan mental. Hal ini membuat banyak orang enggan untuk mencari bantuan atau berbicara tentang masalah mereka.

Untuk menjawab tantangan tersebut, sebuah seminar bertema “It’s Okay Not to Be Okay” diselenggarakan sebagai bagian dari rangkaian peringatan Ulang Tahun ke-13 Rumah Sakit Izza. Seminar ini dilaksanakan di Auditorium Al Izza Preschool, Karawang, Jawa Barat, pada Sabtu (13/12). Acara ini didukung oleh Yayasan Astri Bakti Insani selaku mitra penyedia fasilitas.

Seminar ini menghadirkan berbagai perspektif, mulai dari psikolog, psikiater, penyintas kesehatan mental, hingga caregiver dan perwakilan komunitas. Tujuan utamanya adalah untuk menciptakan ruang dialog yang terbuka, inklusif, dan penuh empati agar masyarakat lebih memahami isu kesehatan mental.

Kegiatan ini juga bertujuan untuk mengingatkan bahwa kesehatan mental merupakan bagian integral dari kualitas hidup seseorang, sama pentingnya dengan kesehatan fisik. Kondisi mental yang sehat membantu individu berpikir jernih, mengelola emosi, serta menghadapi tantangan hidup secara adaptif.

Menurut Direktur RS Izza Karawang, dr. Dik Adi Nugraha Sp.B., MM, data menunjukkan bahwa 1 dari 5 orang di Indonesia pernah mengalami masalah mental. Namun, fenomena ini sering kali seperti gunung es—hanya bagian yang terlihat saja yang diketahui, sedangkan bagian bawahnya jauh lebih besar.

Stigma dan anggapan tabu sering membuat banyak orang diam dan memendam masalah, sehingga meningkatkan risiko stres, kecemasan, dan depresi. Dalam seminar ini, para narasumber menjelaskan akar masalah dari tingginya stigma di masyarakat, termasuk kurangnya pemahaman, akses layanan yang terbatas, serta anggapan keliru bahwa gangguan mental adalah bentuk kelemahan.

Bangkit dan Keluar Dari Persoalan Mental

Dalam sesi ini, psikolog Marissa S. Purba, M.Psi., dan psikiater dr. P. Beta Ayu Natalia, Sp.KJ, memaparkan perspektif profesional mengenai pentingnya mengenali tanda-tanda awal masalah kesehatan mental, menjaga komunikasi yang sehat, serta tidak menunda untuk melibatkan tenaga profesional.

Keduanya menekankan bahwa penanganan kesehatan mental tidak selalu dimulai dari langkah besar, melainkan dari kesadaran diri, dukungan lingkungan terdekat, dan akses bantuan yang tepat. Marissa menekankan pentingnya mendengarkan, mengajak anak beraktivitas, dan menciptakan rasa aman.

Sementara itu, dr. Beta Ayu Natalia menambahkan bahwa setiap orang harus tahu apa kekurangannya dalam menjalani kehidupan. Apakah cara mengatasi stres atau masalah yang dihadapinya sudah baik atau belum. Apakah dia masih menyimpan respon trauma dari hal-hal di masa lalu. Di sinilah butuh seorang ahli atau profesional.

Pendekatan tersebut diperkuat melalui kisah seorang penyintas kesehatan mental, Faqih N Umam, yang membagikan pengalamannya melewati masa krisis. Melalui ceritanya, peserta diajak memahami bahwa proses pemulihan merupakan perjalanan yang bertahap dan sangat dipengaruhi oleh penerimaan diri, dukungan keluarga, serta lingkungan yang memberikan rasa aman tanpa stigma.

Rangkaian Kegiatan: Film, Bazaar, dan Diskusi Interaktif

Seminar ini diawali dengan pemutaran film bertema kesehatan mental yang mengisahkan perjalanan seseorang dalam menghadapi stigma serta proses pemulihan. Selama rangkaian acara, peserta juga dapat mengunjungi area bazar yang menghadirkan berbagai tenant, menciptakan suasana yang lebih terbuka dan nyaman bagi interaksi di sela-sela kegiatan seminar.

Acara dilanjutkan dengan seminar dan diskusi panel interaktif, di mana peserta dapat bertanya langsung kepada psikolog, psikiater, penyintas, dan keluarga pendamping. Dialog terbuka ini mendorong peserta tidak hanya memahami isu kesehatan mental secara lebih mendalam, tetapi juga merasa menjadi bagian dari komunitas yang peduli dan saling mendukung.

Melalui kegiatan ini, masyarakat diharapkan semakin memahami bahwa kesehatan mental bukanlah isu yang tabu, melainkan bagian penting dari kehidupan manusia yang perlu mendapatkan perhatian bersama. Setiap orang dapat mengalami masa-masa sulit dan kerentanan emosional, namun hal tersebut bukanlah akhir dari segalanya.

Keluarga adalah lini pertama, bagaimana membentuk karakter anak dan karakter manusia. Jika keluarga tidak membentuk dengan karakter yang baik, kemungkinan anak akan mencari pelampiasan yang lain. Kita harus memperbaiki pola hidup, pola pikir sehingga jiwa kita agar tertata dengan baik.

Dukungan dari keluarga, teman, lingkungan kerja, maupun tenaga profesional menjadi hal yang paling berharga dalam proses pemulihan. Dengan membuka ruang diskusi, berbagi pengalaman, dan memberikan edukasi, seminar ini diharapkan bisa menghapus stigma, meningkatkan literasi kesehatan mental, serta mendorong terciptanya budaya peduli dan saling mendukung di tengah masyarakat.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *