Tim Bintang Kala Aceh Masuk Final Budaya GO Kementerian Kebudayaan

tim logo 1 1 1 scaled

Perjalanan Bintang Kala Menuju Grand Final Budaya GO

Di tengah bencana alam yang menghancurkan Aceh, sebuah tim inovator muda berhasil menembus hambatan dan mencapai grand final dalam ajang Budaya GO. Tim yang diberi nama Bintang Kala ini tidak hanya menunjukkan kehebatan teknologi mereka, tetapi juga semangat perjuangan yang luar biasa.

Aplikasi Smart Keuneunong: Inovasi Berbasis Kearifan Lokal

Bintang Kala mengembangkan aplikasi bernama Smart Keuneunong, yang berbasis pada kearifan lokal. Aplikasi ini dirancang untuk membantu para petani dan nelayan memahami alam, cuaca, serta siklus kehidupan yang selama ini hanya diwariskan secara lisan dari generasi ke generasi. Dengan adanya aplikasi ini, informasi penting bisa tersampaikan dengan lebih cepat dan akurat.

Komposisi Tim Bintang Kala

Tim Bintang Kala terdiri dari lima anggota yang berasal dari berbagai daerah di Aceh:

  • Nanta Es – Lhokseumawe

    Seorang programmer yang juga menjadi operator SMAN Mosa Arun Lhokseumawe.

  • Syahrul Hamdi – Aceh Selatan

    Ahli data sains dan programmer, yang juga berasal dari SMAN Mosa Arun Lhokseumawe.

  • Reny Fharina – Aceh Tengah

    Pegiat seni sekaligus guru seni di SMPN 3 Bireuen.

  • Abu Rahmat – Aceh Utara

    Pegiat seni dan guru di SMAN 1 Baktiya.

  • Nyakman Lamjamee – Banda Aceh

    Seorang seniman yang turut berkontribusi dalam proyek ini.

Menghadapi Bencana dengan Semangat Tak Pernah Padam

Pada tanggal 26 November 2025, setelah pengumuman tahap dua, tim Bintang Kala masih berdiskusi melalui grup WhatsApp untuk menyempurnakan demo aplikasi. Namun, tak lama kemudian, hujan deras mulai mengguyur Aceh, menyebabkan banjir dan longsor yang mengganggu jaringan komunikasi.

Listrik padam di hampir seluruh Aceh, dan air masuk ke dalam rumah-rumah hingga ketinggian satu meter. Desa-desa berubah menjadi lautan lumpur, menghanyutkan perabot dan kenangan. Di tengah situasi yang sangat sulit, beberapa anggota tim tetap berusaha menyelesaikan demo aplikasi meski dengan daya baterai seadanya dan cahaya yang minim.

Empat Hari Tanpa Listrik dan Sinyal

Empat hari tanpa listrik dan sinyal membuat tim Bintang Kala harus bertahan hidup dengan cara yang sangat sederhana. Saat hujan reda, mereka berjalan kaki mencari sinyal dan akhirnya menemukan kabar bahwa nama mereka masuk dalam daftar undangan grand final.

Perasaan campur aduk meliputi bahagia, takut, sedih, dan bimbang. Bagaimana mungkin mereka bisa berangkat ke Jakarta jika jalur darat terputus? Bagaimana bisa berpikir tentang lomba saat keluarga masih terjebak di lumpur?

Perjalanan Rumit untuk Menjangkau Jakarta

Dari berbagai daerah di Aceh, semua jalur darat terputus. Tiga anggota dari Lhokseumawe dan Aceh Utara harus menyeberangi sungai berarus deras menggunakan perahu kecil milik nelayan. Satu anggota dari Bireuen berangkat setelah meminta izin kepada orang tua sambil menahan tangis. Anggota dari Banda Aceh menunggu dengan berjalan kaki berkilometer demi menemukan jaringan internet.

Tiba di Banda Aceh

Pada tanggal 3 Desember 2025, tim Bintang Kala akhirnya tiba di Banda Aceh dalam keadaan selamat. Mereka menumpang di kantor BPK Wilayah I yang masih memiliki listrik. Di sanalah mereka pertama kali duduk bersama, bukan hanya sebagai tim, tetapi juga sebagai saudara seperjuangan.

Malam itu mereka belajar, berdiskusi, dan mempersiapkan diri untuk Jakarta. Paginya, pukul 10.00 WIB, mereka berangkat ke bandara. Sore hari, pukul 18.00 WIB, mereka akhirnya tiba di lokasi Budaya GO Jakarta dan bertemu dengan para finalis lain dari seluruh Indonesia.

Kesaksian Ketahanan Manusia

Dari 627 peserta, Bintang Kala berhasil menjadi 10 besar grand finalis nasional. Mereka datang bukan dengan pakaian terbaik, tetapi dengan luka, air mata, dan tekad yang tak pernah padam. Kisah mereka adalah bukti bahwa inovasi lahir bukan dari kenyamanan, tetapi dari keberanian.

“Kaki harus menyelesaikan mapan yang sudah kami mulai,” kata Abu Rahmat saat menerima apresiasi pada malam penutupan. Mereka hadir di panggung dengan latar bencana banjir dan longsor di Aceh, kampung mereka.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *