Kehilangan dan Kebangkitan: Cerita Armansyah yang Selamat dari Banjir Bandang
Di tengah kehancuran yang diakibatkan oleh banjir bandang yang melanda Nagari Salareh Aie Timur, Kecamatan Palembayan, Kabupaten Agam, terdapat kisah nyata tentang ketangguhan dan kepedulian seorang warga bernama Armansyah. Ia berhasil selamat bersama keluarganya, namun trauma yang dialami anak-anaknya masih menyisakan luka batin yang sulit untuk disembuhkan.
Meski telah berkumpul kembali dengan seluruh anggota keluarganya, Armansyah merasa bahwa ketiga anaknya mengalami trauma mendalam. Terutama dua anaknya yang secara langsung menyaksikan peristiwa paling mengerikan, yaitu saat dirinya dan mertuanya terbawa arus banjir dan berjuang keras untuk bisa keluar dari ancaman tersebut. Kini, kedua anak itu masih dititipkan kepada kerabat lain karena takut kembali ke rumah yang hanya tersisa lumpur dan satu dinding.
Armansyah menilai bahwa proses trauma healing sangat penting bagi para korban, terutama anak-anak. Mereka harus belajar menghadapi kenyataan yang tidak pernah mereka bayangkan sebelumnya. “Saya lihat trauma healing sangat dibutuhkan oleh para korban terkhusus anak. Karena di usia itu mereka harus melihat kenyataan, fenomena yang tak pernah terbayangkan atau diceritakan,” ujarnya.
Suara Gemuruh yang Mengubah Hidup
Banjir bandang yang terjadi pada Kamis (27/11/2025) mengguncang kehidupan Armansyah dan keluarganya. Saat itu, ia sedang berada di dalam rumah bersama dua anak, istri, dan mertuanya. Suara gemuruh yang terdengar seperti putaran helikopter membuatnya penasaran. Ia mencoba memahami suara itu sebagai bunyi alat berat yang pernah lewat beberapa hari sebelumnya.
Namun, suara itu justru menjadi tanda bahaya. Tidak lama kemudian, air mulai menghempas rumahnya dengan deras dan penuh material. Armansyah dan mertuanya terjebak dalam arus yang kuat, sementara dua anaknya masih berada di dekat pintu, takut akan situasi yang terjadi.
Setelah beberapa detik berjuang, Armansyah akhirnya berhasil keluar dari arus tersebut. Ia membawa mertuanya dan segera berlari menuju tempat yang lebih tinggi. Di sana, ia bertemu dengan sejumlah warga dan sanak saudara. Namun, kejadian belum berakhir. Ia menyadari bahwa istrinya dan satu anaknya hilang.
Pencarian yang Penuh Harapan
Ketakutan dan kecemasan menyelimuti Arman. Ia ingin kembali ke lokasi bencana meskipun warga menahannya agar tidak gegabah. Setelah menunggu selama 30 menit, ia memutuskan untuk turun kembali mencari istrinya dan anaknya. Dengan langkah perlahan dan hati-hati, ia menyusuri jalan yang penuh lumpur.
Pada akhirnya, pesan singkat dari keluarga istrinya memberikan harapan. Istrinya ternyata aman dan berada di Koto Alam. Informasi serupa juga datang dari warga lain yang melihat istrinya dan anaknya di sana. Meski awalnya ragu, Arman akhirnya memutuskan untuk pergi ke lokasi tersebut.
Setelah berjalan sejauh satu kilo, ia menemukan istrinya dan anaknya dalam kondisi aman. Istri dan anaknya sempat lari ke sawah dan tempat yang lebih tinggi setelah mendengar suara gemuruh dan getaran. Akhirnya, mereka dapat berkumpul kembali.
Proses Penyembuhan yang Masih Berlangsung
Meski kehilangan rumah, Armansyah berharap semoga kebahagiaan dan kebersamaan bisa kembali terjalin. Ia menyadari bahwa proses penyembuhan mental bagi anak-anaknya masih panjang. Trauma dari pengalaman tersebut akan terus menghiasi ingatan mereka. Oleh karena itu, ia berharap ada bantuan psikologis dan dukungan dari masyarakat agar mereka bisa bangkit kembali dari rasa takut dan cemas.
Dengan kekuatan dan keyakinan, Armansyah dan keluarganya tetap bertahan. Mereka berharap masa depan yang lebih cerah bisa segera tiba.



















