Tradisi Reba: Ritual Sakral dan Warisan Budaya Masyarakat Ngada
Ritual Reba merupakan salah satu upacara adat yang selalu dilaksanakan oleh masyarakat Ngada setiap bulan Januari. Ritual ini menjadi bagian dari kepercayaan dan tradisi turun-temurun yang diwariskan oleh leluhur mereka. Tanda-tanda alam seperti angin kencang dan hujan gerimis sering kali menjadi indikasi bahwa ritual Reba sedang berlangsung di kawasan Langa, Kecamatan Bajawa, Kabupaten Ngada.
Masyarakat di sekitar wilayah Flores bagian Tengah, termasuk Kota Komba, Kabupaten Manggarai Timur, sudah sangat mengenal tanda-tanda alam tersebut. Setiap tahun, warga setempat menantikan momen ini sebagai bagian dari kehidupan budaya mereka. Ritual Reba tidak hanya sekadar upacara adat, tetapi juga memiliki makna mendalam terkait sejarah dan nilai-nilai kehidupan sosial masyarakat Ngada.
Sejarah dan Makna Ritual Uwi Reba
Dalam ritual Reba, uwi (ubi) memiliki peran utama. Ubi disebut sebagai makanan pokok leluhur orang Ngada sebelum mereka mengenal nasi. Dalam kisah lisan, dikatakan bahwa leluhur orang Ngada berasal dari Sina One (China), tempat asal nenek moyang mereka. Mereka melakukan perjalanan panjang melintasi lautan dan daratan, dan pada akhirnya tiba di Pulau Jawa, Bima, Sumba, dan akhirnya di wilayah Ngada.
Salah satu tokoh masyarakat, Mikael Do, menjelaskan bahwa dalam pengembaraan mereka, ubi menjadi sumber makanan utama. Ubi dibagi-bagikan sebagai simbol kerukunan, persatuan, dan perdamaian antara sesama. Ritual pemecahan ubi dalam acara Sui Uwi adalah bentuk penghormatan terhadap leluhur dan kepercayaan akan kekuatan alam semesta.
Upacara Ekaristi dan Perayaan Uwi Reba
Sebelum ritual Reba dimulai, masyarakat Ngada terlebih dahulu melaksanakan perayaan Ekaristi sesuai dengan kepercayaan Iman Katolik. Belasan imam memimpin perayaan ini, yang dihadiri oleh Wakil Gubernur NTT Josef Adrianus Nai Soi, Ketua DPRD NTT Anwar Pua Geno, serta pejabat lainnya. Perayaan ini menjadi awal dari prosesi ritual Reba yang penuh makna.
Setelah perayaan Ekaristi, ribuan warga Ngada berkumpul untuk melaksanakan ritual Uwi Reba. Mereka memakai kain adat khas Ngada yang berwarna hitam bercampur benang putih, sementara para kepala keluarga menggunakan kain ikat berwarna merah. Di lokasi ritual, suasana terasa magis dan sakral, dengan semua peserta berdoa dan menyembah kepada Sang Pencipta.
Festival Reba dan Upaya Pelestarian Budaya
Wakil Gubernur NTT, Josef Adrianus Nai Soi, menyampaikan bahwa Reba akan ditingkatkan menjadi Festival Reba yang lebih besar. Pemprov NTT berkomitmen untuk menggiatkan berbagai festival khas NTT, termasuk Festival Reba khas Ngada. Tahun depan, festival ini akan diikuti oleh ribuan masyarakat Ngada dan ribuan uwi yang disiapkan secara khusus.
Nai Soi juga mengajak masyarakat Ngada untuk melestarikan tradisi Uwi Reba. Ia menekankan pentingnya menanam uwi di kebun-kebun masing-masing, karena tanaman ini tidak merusak tanah dan memiliki nilai ekologis tinggi. Selain itu, ia mengimbau masyarakat untuk tidak lagi bergantung pada bantuan beras dari pemerintah, tetapi lebih memperkuat ketahanan pangan melalui pertanian uwi.
Peran Rumah Adat dan Kebersamaan
Ketua Panitia Reba Paskalis Lalu menjelaskan bahwa Ritual Reba Uwi atau Sui Uwi merupakan tradisi menghormati makanan tradisional uwi yang diwariskan secara turun temurun oleh leluhur Ngada. Salah satu leluhur yang mewariskan tradisi ini adalah Sili. Sejak dulu, masyarakat Ngada menanam uwi yang tumbuh liar di hutan sebagai makanan pokok.
Sebelum uwi disantap bersama, terlebih dahulu dilakukan ritual adat untuk menghormati alam semesta dan Sang Pencipta. Paskalis berharap tradisi ini terus dilestarikan agar generasi penerus dapat memahami nilai-nilai kehidupan yang diwariskan oleh leluhur.
Penutup
Ritual Reba bukan hanya sekadar upacara adat, tetapi juga menjadi cerminan dari sejarah, kepercayaan, dan nilai-nilai kehidupan masyarakat Ngada. Dengan pelestarian tradisi ini, masyarakat Ngada dapat menjaga identitas budaya mereka sambil tetap berkembang menuju masa depan yang lebih baik.



















